Harta Halal yang Membawa Berkah
"Harta yang kamu
makan akan menjadi kotoran, harta yang kamu simpan akan menjadi warisan atau
rebutan, tetapi harta yang kamu sedekahkan akan kekal dan menjadi bekal di
akhirat."
(Buya Hamka)
Rezeki yang halal, meskipun sedikit, pasti
lebih membawa keberkahan daripada harta yang melimpah tetapi diperoleh dengan
cara yang haram. Keberkahan bukan semata-mata diukur dari banyaknya harta,
melainkan dari manfaat dan ketenteraman yang Allah ﷻ limpahkan
kepada pemiliknya.
Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah
berkata,
وَالْقَلِيلُ مِنَ الْحَلَالِ يُبَارَكُ فِيهِ،
وَالْحَرَامُ الْكَثِيرُ يَذْهَبُ وَيَمْحَقُهُ اللَّهُ تَعَالَى
"Sedikit harta yang halal akan
diberkahi, sedangkan harta haram yang banyak akan lenyap dan dimusnahkan oleh
Allah Ta'ala." (Majmū'
Al-Fatāwā, 28:646)
Jangan Menjadi Budak Harta
Di zaman sekarang, tidak sedikit orang yang
mencari rezeki dengan prinsip yang penting dapat. Halal dan haram tidak
lagi menjadi pertimbangan utama. Fenomena ini telah diperingatkan oleh
Rasulullah ﷺ jauh-jauh hari. Beliau ﷺ bersabda,
لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا
يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ، أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ
"Akan datang suatu zaman ketika
seseorang tidak lagi peduli dari mana ia memperoleh hartanya, apakah dari jalan
yang halal atau yang haram." (HR. Bukhari, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Akibatnya, banyak orang yang menjadi budak
dunia. Mereka mengejar harta tanpa memperhatikan aturan Allah ﷻ.
Rasulullah ﷺ menyebut mereka sebagai budak harta.
تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ
وَالْقَطِيفَةِ وَالْخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ
يَرْضَ
"Celakalah hamba dinar, dirham, pakaian
mewah, dan kain indah. Jika diberi, ia ridha. Jika tidak diberi, ia tidak
ridha." (HR. Bukhari)
Menjelaskan hadis tersebut, Ibnu Taimiyah rahimahullah
berkata, "Inilah yang disebut sebagai budak harta. Jika Allah memberinya,
ia ridha. Jika Allah tidak memberinya, ia murka. Adapun hamba Allah yang sejati
adalah orang yang ridha terhadap apa yang Allah ridhai, murka terhadap apa yang
Allah murkai, mencintai apa yang Allah dan Rasul-Nya cintai, serta membenci apa
yang Allah dan Rasul-Nya benci." (Majmū' Al-Fatāwā, 10:190)
Perintah Mencari yang Halal dan Thayyib
Allah ﷻ berfirman,
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى
الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًاۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا
خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ ١٦٨
"Wahai manusia! Makanlah dari (makanan)
yang halal lagi baik yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti
langkah-langkah setan. Sungguh, setan adalah musuh yang nyata bagimu." (QS. Al-Baqarah [2]: 168)
Makanan disebut halal apabila halal
zatnya dan halal pula cara memperolehnya. Selain itu, makanan juga harus thayyib,
yaitu baik, bergizi, bersih, serta tidak membahayakan tubuh.
Dampak Mengonsumsi Harta dan Makanan Haram
1. Doa Sulit Dikabulkan
Rasulullah ﷺ
menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh.
Rambutnya kusut dan tubuhnya penuh debu. Ia mengangkat kedua tangannya seraya
berdoa,
يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ،
وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى
يُسْتَجَابُ لَهُ؟
"Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku."
Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi
makan dari yang haram. Maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan?" (HR. Muslim)
2. Menghambat Amal Shaleh
Allah ﷻ mengaitkan
makanan yang baik dengan semangat beramal shaleh.
يٰٓاَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ
الطَّيِّبٰتِ وَاعْمَلُوْا صَالِحًاۗ اِنِّيْ بِمَا تَعْمَلُوْنَ عَلِيْمٌۗ ٥١
"Wahai para rasul! Makanlah dari makanan
yang baik dan kerjakanlah amal shaleh. Sungguh, Aku Maha Mengetahui apa yang
kamu kerjakan." (QS.
Al-Mu'minun [23]: 51)
Makanan yang halal akan membantu seseorang
bersemangat dalam beribadah, sedangkan makanan haram justru menjadi penghalang
bagi ketaatan.
3. Mendapat Ancaman Neraka
Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu
berkata,
مَنْ نَبَتَ لَحْمُهُ مِنَ السُّحْتِ
فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ
"Siapa yang dagingnya tumbuh dari harta
yang haram, maka neraka lebih pantas baginya." (HR. Ibnu Hibban dan Al-Hakim)
Doa Memohon Rezeki Halal
Rasulullah ﷺ
mengajarkan doa berikut.
اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ
حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
"Ya Allah, cukupkanlah kami dengan
rezeki-Mu yang halal sehingga kami tidak membutuhkan yang haram. Cukupkanlah
kami dengan karunia-Mu sehingga kami tidak bergantung kepada selain-Mu." (HR. Tirmidzi dan Ahmad)
Kisah Imam Asy-Syafi'i tentang Keberkahan
Rezeki
Dikisahkan, seorang lelaki mengadu kepada
Imam Asy-Syafi'i rahimahullah. Ia menerima gaji sebesar lima dirham
setiap hari, tetapi hidupnya terasa sempit. Uangnya selalu habis, istrinya
sering mengeluh, dan anak-anaknya sulit dinasihati.
Imam Asy-Syafi'i justru menyarankan agar ia
meminta majikannya mengurangi gajinya menjadi empat dirham. Meskipun terasa
aneh, ia melaksanakan nasihat tersebut. Beberapa waktu kemudian, ia datang
kembali dengan wajah yang lebih cerah. Kehidupannya mulai terasa lebih lapang,
dan kondisi keluarganya pun membaik.
Imam Asy-Syafi'i kembali menyuruhnya
mengurangi gaji menjadi tiga dirham. Sekali lagi ia menaatinya.
Beberapa waktu kemudian, ia datang dengan
penuh kegembiraan.
"Alhamdulillah, wahai Imam. Sejak gajiku
tinggal tiga dirham, justru hidup kami terasa berlimpah. Semua kebutuhan
tercukupi, bahkan kami bisa bersedekah. Istriku menjadi lebih ramah, dan
anak-anakku lebih taat. Apa rahasianya? Mengapa dahulu lima dirham terasa
kurang, sedangkan tiga dirham justru terasa cukup?"
Imam Asy-Syafi'i menjawab dengan sebuah
syair, "Ia mencampurkan yang haram dengan yang halal untuk memperbanyak
harta. Padahal, apabila yang haram telah bercampur dengan yang halal, niscaya
ia akan merusaknya."
Kisah ini bukan berarti para majikan
dianjurkan mengurangi gaji pegawainya. Pesan utamanya adalah agar setiap
pekerja menjaga amanah dalam pekerjaannya. Bekerjalah secara profesional dan
maksimal sehingga gaji yang diterima benar-benar menjadi hak yang halal dan
pantas. Dengan demikian, penghasilan tersebut akan mendatangkan keberkahan bagi
diri dan keluarga.
Hak yang diterima hendaknya sejalan dengan kewajiban yang telah ditunaikan. Sebab, keberkahan rezeki tidak hanya ditentukan oleh jumlahnya, tetapi juga oleh kehalalan cara memperolehnya, kejujuran dalam bekerja, serta keridhaan Allah ﷻ. Wallahu a'lam bish-shawab.
Tidak ada komentar