Haji dan Titipan Harapan Seorang Hamba
Akhir-akhir ini banyak berita dan cerita tentang haji. Ada tetangga yang mengadakan walimatus safar haji. Tahun ini beberapa teman ada yang berangkat menunaikan ibadah haji, bahkan ada pula yang mendapat amanah sebagai petugas haji. Alhamdulillah, bagi saya, semua itu menjadi kabar yang membahagiakan dan patut untuk turut disyukuri.
Suasana ini mengingatkan pada salah satu episode dalam hidup yang pernah saya lalui. Dulu, setelah beberapa tahun pernikahan dan belum juga dikaruniai momongan, kami berusaha dengan berbagai ikhtiar. Salah satunya adalah menitipkan doa kepada orang-orang yang akan berangkat haji, terutama kepada keluarga, teman, dan orang-orang terdekat.
Sebagian calon jamaah haji yang saya kenal memang sengaja membawa daftar doa titipan dari para kerabatnya untuk dimohonkan kepada Allah di hadapan Ka’bah. Ada yang menuliskannya di buku, ada pula yang diketik rapi hingga berlembar-lembar. Kepada mereka, kami juga menitipkan harapan dengan penuh keyakinan bahwa doa yang dipanjatkan di tanah suci, di tempat-tempat mustajab, memiliki keutamaan yang besar di sisi Allah.
Maka bagi saya, perjalanan haji bukan semata-mata hanya tentang mereka yang berangkat dan meraih predikat mabrur setelah kembali dari tanah suci, tetapi juga tentang harapan-harapan yang ikut dititipkan. Di sana ada doa, air mata, dan keyakinan banyak orang. Pada akhirnya, kita belajar bahwa setiap ikhtiar, sekecil apa pun, adalah bentuk penghambaan kepada-Nya. Dan Allah, dengan rahmat-Nya, Maha Mengetahui waktu terbaik untuk mengabulkan setiap doa yang kita panjatkan.
Tidak ada komentar