Manhaj Dakwah Mubaligh Muhammadiyah
Dakwah merupakan jalan untuk mengajak manusia
kepada Allah ﷻ
dan menghadirkan perbaikan bagi umat. Karena itu, dakwah tidak cukup hanya
dengan kemampuan dan kemauan dalam berbicara di hadapan umat. Seorang dai
membutuhkan niat yang benar, ilmu yang cukup, landasan yang kuat, serta akhlak
yang baik.
Berikut beberapa prinsip penting dalam manhaj
dakwah yang harus dimiliki oleh mubaligh Muhammadiyah:
1. Luruskan Niat
Hal pertama yang harus diperhatikan seorang
dai adalah meluruskan niat. Dakwah dilakukan karena Allah ﷻ
dan untuk perbaikan umat, bukan untuk mencari pujian, popularitas, banyaknya
jamaah, ataupun kepentingan pribadi.
Allah ﷻ
berfirman:
قُلْ هٰذِهٖ سَبِيْلِيْٓ اَدْعُوْٓا اِلَى
اللّٰهِۗ عَلٰى بَصِيْرَةٍ اَنَا۠ وَمَنِ اتَّبَعَنِيْۗ وَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ ١٠٨
“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Inilah
jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (seluruh manusia) kepada
Allah dengan bukti yang nyata. Mahasuci Allah dan aku tidak termasuk golongan
orang-orang musyrik.’” (QS. Yusuf [12]: 108)
Ayat ini menunjukkan bahwa dakwah harus
dilakukan dengan kesadaran bahwa tujuan utamanya adalah mengajak manusia kepada
Allah ﷻ. Seorang dai sejati tidak menyeru manusia
kepada dirinya. Ia hanyalah perantara, penyambung lidah wahyu, bukan tujuan
dari dakwah itu sendiri.
Karena itu, seorang dai harus senantiasa
berhati-hati menjaga niat. Sebab, tanpa disadari, bisa muncul
keinginan-keinginan halus dalam hati: ingin dikagumi, terlihat hebat, dianggap
berpengaruh, atau dikenal luas.
Inilah penyakit hati yang harus terus
diwaspadai. Jangan sampai dakwah yang seharusnya menjadi jalan untuk mengajak
manusia mendekat kepada Allah ﷻ
justru berubah menjadi jalan untuk mengangkat nama dan membesarkan diri
sendiri.
2. Berdakwah dengan Bekal Ilmu
Dakwah membutuhkan ilmu. Seorang dai tidak
cukup hanya memiliki semangat berdakwah, tetapi juga harus memahami apa yang
disampaikan dan bagaimana cara menyampaikannya.
Bekal ilmu tersebut meliputi: Ilmu tentang
konten dakwah, yaitu memahami materi yang akan disampaikan. Termasuk ilmu
tentang teori atau fikih dakwah, yaitu memahami bagaimana pesan dakwah
disampaikan kepada masyarakat.
Nabi Musa ‘alaihi salam pun masih
belajar kepada Nabi Khidr. Nabi Muhammad ﷺ
masih belajar melalui Jibril ‘alaihi salam. Demikian pula para ulama;
mereka senantiasa belajar dan mengambil ilmu dari ulama lainnya.
Maka, jangan pernah merasa cukup dengan ilmu
yang kita miliki. Sebab, semakin seseorang berilmu, semakin ia menyadari bahwa
masih banyak hal yang perlu dipelajari.
Dengan ilmu, dakwah dapat dilakukan secara
lebih terarah dan tidak sekadar berdasarkan perkiraan atau perasaan.
3. Berdakwah Berlandaskan Al-Qur’an dan
Sunnah
Setiap materi dakwah hendaknya memiliki
landasan yang jelas dari Al-Qur’an dan Sunnah Maqbulah. Seorang dai perlu
melakukan pengecekan sebelum menyampaikan sebuah hadis, kisah, ataupun
informasi keagamaan.
Karena itu, perlu dihindari: hadis palsu; hadis
yang lemah tanpa penjelasan yang memadai; cerita yang tidak memiliki sumber
yang jelas; serta informasi keagamaan lainnya yang tidak dapat
dipertanggungjawabkan.
Prinsip ini penting agar dakwah benar-benar
menjadi sarana menyampaikan kebenaran, bukan justru menyebarkan informasi yang
tidak jelas asal-usulnya.
4. Menjalankan Amar Makruf Nahi Munkar
Dakwah memiliki misi amar makruf nahi munkar,
yaitu mengajak manusia kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Allah ﷻ
berfirman:
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ
اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ١٠٤
“Hendaklah ada di antara kamu segolongan
orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan
mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran [3]: 104)
Amar makruf nahi munkar bukan sekadar
mengingatkan kesalahan, tetapi juga mengajak kepada kebaikan dan perbaikan
kehidupan umat.
Sebagaimana nasihat Rasulullah ﷺ
kepada Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:
وَأَمَرَنِي أَنْ أَقُولَ بِالْحَقِّ وَإِنْ
كَانَ مُرًّا
"Beliau memerintahkan kepadaku untuk
mengatakan yang benar walaupun itu pahit." (HR. Ahmad)
5. Dakwah Sesuai Kebutuhan Umat
Dakwah harus hadir menjawab kebutuhan
masyarakat. Seorang dai perlu memahami kondisi umat dan menyesuaikan materi
yang disampaikan dengan kebutuhan mereka. Hal ini mencakup: menyesuaikan kebutuhan
umat; memahami kondisi sasaran dakwah; menggunakan bahasa yang sesuai dengan
sasaran dakwah.
Allah ﷻ
berfirman:
وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا
بِلِسَانِ قَوْمِهٖ لِيُبَيِّنَ لَهُمْۗ
“Kami tidak mengutus seorang rasul pun,
kecuali dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka.”
(QS. Ibrahim [14]: 4)
Pesannya jelas: dakwah harus dapat dipahami
oleh orang yang menjadi sasaran dakwah.
6. Tegas dalam Prinsip, Santun dalam Cara
Seorang dai harus memiliki ketegasan dalam
perkara akidah dan prinsip Islam. Prinsip tersebut tidak boleh dikompromikan.
Namun, ketegasan prinsip tidak berarti harus
kasar dalam menyampaikan dakwah.
Cara berdakwah tetap perlu dilakukan dengan: santun;
terbuka; menghargai manusia; menggunakan bahasa yang baik.
Dengan demikian, seorang dai dapat tetap
teguh memegang prinsip Islam tanpa kehilangan akhlak dan kesantunan.
7. Dai Harus Menjadi Teladan
Dakwah tidak hanya disampaikan melalui lisan,
tetapi juga melalui perilaku. Apa yang disampaikan seorang dai hendaknya
tercermin dalam kehidupannya. Jangan sampai seorang dai begitu rajin memberikan
nasihat kepada orang lain, tetapi akhlak dan perilakunya justru tidak
mencerminkan apa yang ia sampaikan.
Tidak harus menunggu sempurna untuk berdakwah
kepada orang lain. Namun, ketika seorang dai berdakwah kepada orang lain, pada
hakikatnya ia juga sedang mengajak dirinya sendiri untuk senantiasa memperbaiki
diri. Setiap nasihat yang disampaikan hendaknya menjadi pengingat bagi dirinya
untuk terus belajar, berbenah, dan meningkatkan kualitas akhlak serta amalnya.
Allah ﷻ
berfirman:
كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ
تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ
“Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah
bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Saff [61]: 3)
Karena itu, keteladanan menjadi bagian
penting dari keberhasilan dakwah. Masyarakat bukan hanya mendengar apa yang
dikatakan seorang dai, tetapi juga melihat bagaimana ia menjalani apa yang
dikatakannya.
8. Jangan Sombong
Seorang dai juga harus menjaga diri dari kesombongan
dan ujub. Ilmu dan kemampuan berdakwah tidak boleh membuat seseorang merasa
lebih tinggi daripada orang lain.
Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, Nabi ﷺ bersabda,
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Sombong adalah menolak kebenaran dan
meremehkan manusia.” (HR. Muslim)
Kesombongan dapat berdampak buruk, antara
lain: merendahkan orang lain; menolak kebenaran; sulit menerima nasihat; menjadi
keras kepala; dan dapat mengantarkan seseorang kepada keadaan yang buruk di
akhir kehidupannya.
Rasulullah ﷺ
bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ
أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ
“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat
suatu kaum dengan kitab ini (Al-Qur’an) dan merendahkan kaum yang lain dengan
kitab ini.” (HR. Muslim)
Hadis ini mengingatkan bahwa ilmu dan Al-Qur’an
seharusnya menjadi jalan menuju kemuliaan, bukan menjadi sebab seseorang merasa
lebih tinggi dari orang lain. Semakin banyak ilmu, kemampuan, dan kesempatan
berdakwah yang Allah ﷻ
berikan, semestinya semakin bertambah pula ketawadukan dan rasa syukur.
Sebaliknya, jika ilmu dan Al-Qur’an justru
melahirkan ujub, kesombongan, merasa hebat, dan merendahkan orang lain, maka
seseorang bukan sedang dimuliakan dengan Al-Qur’an, tetapi justru bisa menjadi
orang yang direndahkan Allah ﷻ
dengan Al-Qur’an.
Penutup
Prinsip-prinsip di atas tentu belum mencakup
seluruh aspek manhaj dakwah seorang mubaligh Muhammadiyah. Masih banyak hal
yang perlu diperhatikan, seperti menjaga persatuan umat, membangun sikap
toleransi, menghindari perpecahan, memahami kemajemukan masyarakat, membangun
komunikasi dan kerja sama, serta menghadirkan dakwah yang mencerahkan dan
membawa kemaslahatan.
Namun, semoga beberapa prinsip yang telah
disampaikan tersebut dapat menjadi bekal dasar agar dakwah tidak hanya benar
dalam materi, tetapi juga tepat dalam cara, baik dalam akhlak, serta memberikan
manfaat nyata bagi umat. Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
*) Disampaikan oleh Dr. Muhammad Nasri Dini
dalam pembekalan KMM Ranting Gentan, Cabang Bendosari, di Masjid As-Salam Bugo,
Rabu, 2 September 2026.


Tidak ada komentar