Belajar Kesederhanaan Pemimpin dari Dua Umar
Ahmas Nasri
Beberapa
waktu lalu, Indonesia sempat diguncang oleh gelombang demonstrasi dari berbagai
kalangan masyarakat. Salah satu pemicunya adalah kenaikan tunjangan anggota DPR
yang dinilai sangat tidak sensitif terhadap kondisi rakyat. Di tengah kesulitan
ekonomi, harga-harga yang terus naik, serta sulitnya lapangan kerja, kemewahan
sebagian pejabat publik yang dipamerkan di media sosial (flexing) mengecewakan
rakyat.
Kekecewaan
yang menjelma menjadi kemarahan itu bahkan berujung pada tindakan anarkis,
seperti penyerangan dan penjarahan rumah sejumlah pejabat. Tentu, tindakan
kekerasan tersebut tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun. Namun, sejatinya
peristiwa itu adalah “asap” dari “api” yang lebih besar, yaitu ketidakpekaan
dan kesombongan sebagian pemegang kekuasaan yang tidak mau mendengarkan jeritan
rakyatnya.
Fenomena
ini mengingatkan kita pada kisah hikmah dalam lembaran sejarah Islam, yaitu kisah
antara Amirul Mukminin Umar bin Khattab dan sahabat mulia Salman Al-Farisi.
Sebuah peristiwa yang sarat pelajaran tentang hak rakyat untuk menegur pemimpin
dan larangan pamer kemewahan bagi pemegang amanah kekuasaan.
Terdapat banyak kisah yang mengajarkan tentang keadilan, keberanian, dan
keteladanan dalam kepemimpinan. Kisah di bawah ini salah satunya. Bukan sekadar
cerita klasik, tetapi menjadi pedoman moral tentang etika menegur pemimpin dan
bahaya sikap pamer bagi mereka yang memegang amanah kekuasaan.
Suatu hari, Amirul Mukminin Umar bin
Khattab sedang berpidato menyeru rakyat kepada jihad. Di tengah khutbah, Salman
Al-Farisi tiba-tiba berdiri dan berseru lantang, “Jangan didengar, jangan ditaati!”
Tentu saja, ini merupakan interupsi yang sangat berani. Namun Khalifah Umar,
dengan kebijaksanaannya, tidak tersinggung. Ia tidak marah, tidak pula memerintahkan
aparatnya untuk menangkap atau menyakiti rakyat. Sebaliknya, Umar bertanya
dengan sabar, “Mengapa, wahai Salman?”
“Karena
engkau berbuat curang dan mencuri kain Yaman yang dibagikan kemarin
masing-masing selembar per orang. Bagaimana engkau bisa menjahitnya menjadi
baju dan sekarang memakainya.” Rupanya Salman menuduh Umar telah curang karena baju yang
dipakainya tampak lebih besar dari jatah selembar kain yang diterima rakyat.
Umar pun memanggil putranya, Abdullah bin Umar, untuk menjelaskan bahwa kain
tambahan itu berasal dari bagian Abdullah yang diberikan kepada ayahnya.
Setelah mendengar penjelasan itu, Salman puas, dan rakyat pun kembali
mau mendengarkan dan menaati Umar.
Menegur Pemimpin Bukan Pemberontakan
Peristiwa dalam kisah ini menunjukkan bahwa dalam Islam, menegur
pemimpin, bahkan jika dilakukan di depan umum bukanlah termasuk sebuah tindakan
pemberontakan sebagaimana dituduhkan oleh sebagian kalangan. Hal ini justru
sebagai bentuk amar ma’ruf nahi munkar yang dilakukan rakyat kepada pemimpinnya.
Salman Al Farisi, salah satu sahabat utama menunjukkan secara nyata pada kita
bahwa jika rakyat menegur pemimpin itu dilakukan di depan umum pun
diperbolehkan, selama niatnya adalah untuk kebenaran, bukan untuk menjatuhkan.
Rasulullah SAW bersabda, “Jihad yang paling utama ialah
mengatakan kebenaran (berkata yang baik) di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Dawud,
Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Salman yang juga tokoh sahabat saat itu menegur karena cinta kepada
kebenaran dan takut akan munculnya ketidakadilan. Umar menerima karena cinta
kepada keadilan dan kebenaran. Inilah simbiosis mutualisme yang ideal antara
rakyat dan pemimpinnya yang ditunjukkan oleh salafush shalih umat ini.
Dari sini kita bisa mengambil pelajaran, bahwa tokoh umat, para pimpinan
ormas Islam di negeri ini juga memiliki tanggung jawab moral untuk bersikap
kritis terhadap kekuasaan. Mereka tidak seharusnya hanya menjadi stempel atau
pembenaran bagi apapun kebijakan penguasa, melainkan harus berani menyampaikan
kebenaran ketika melihat ketidakadilan dan kebijakan yang tidak berpihak kepada
kemashlahatan rakyat. Suara ulama dan para tokoh masyarakat adalah penjaga
nurani bangsa, agar kekuasaan tetap berada di jalur yang seharusnya.
Larangan Flexing
Dari kisah ini, kita juga dapat meneguk pelajaran penting lain: bahaya
sikap flexing, apalagi jika dilakukan oleh pemimpin. Salman mengira Umar
memakai lebih dari haknya karena baju yang tampak lebih besar. Meskipun
ternyata tidak benar, persepsi rakyat sangat penting dalam menjaga kepercayaan.
Seorang pemimpin tidak boleh memperlihatkan kemewahan di hadapan
rakyatnya, apalagi saat rakyat hidup dalam kesulitan. Flexing harta,
atau gaya hidup berlebihan bisa melukai rakyat dan menimbulkan rasa
ketidakadilan.
Allah SWT berfirman, “Janganlah engkau berjalan di
bumi ini dengan sombong karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus
bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.” (QS. Al-Isra’/17: 37)
Umar bin Khattab yang hanya memakai baju sedikit lebih besar
dari rakyatnya saja sudah mendapat kritik dari rakyatnya. Bagaimana dengan para
pejabat kita hari ini, yang bukan hanya memamerkan pakaian mewah dan mahal,
tetapi juga kendaraan, rumah megah, dan berbagai simbol kemewahan lainnya?
Padahal dalam banyak kisah akan mudah kita dapati bahwa Umar bin Khattab
dikenal sebagai pemimpin yang sangat sederhana. Ia tidur di bawah pohon kurma
tanpa pengawal, makan dengan roti kasar, dan memakai pakaian yang penuh
tambalan. Kesederhanaannya bukan karena miskin, tetapi karena takut
mempertanggungjawabkan amanah di hadapan Allah SWT.
Kesederhanaan Cucu Umar
Selain Umar bin Khattab, kita juga bisa mengambil keteladanan dari
pemimpin lain yang masih terhitung cucu Umar bin Khattab, dialah Umar bin Abdul
Aziz. Sebelum memimpin, khalifah paling bersinar dari Bani Umayyah ini dikenal
sebagai anak bangsawan dari keluarga terpandang Bani Umayyah. Sejak kecil ia
hidup dalam kemewahan dan tumbuh di lingkungan yang gemerlap, di mana segala
kebutuhan mudah terpenuhi.
Namun segalanya berubah ketika takdir mengantarkannya menjadi Amirul
Mukminin. Begitu amanah kepemimpinan berada di pundaknya, Umar seolah menjadi
pribadi yang lain. Ia menanggalkan segala kemewahan, mengganti pakaian indahnya
dengan kain sederhana, dan memilih hanya menunggang keledai ke mana pun pergi, bukan
kuda kerajaan yang megah sebagaimana lazimnya para penguasa saat itu.
Bahkan suatu hari pernah dikisahkan, di saat menyambut hari raya, putrinya
menangis karena tidak memiliki baju baru. Umar hanya menunduk, tak sanggup
membelikan pakaian baru. Saat hendak mengambil gajinya untuk bulan depan di baitul
mal (kas negara) dan menyampaikan niatnya kepada petugas baitul mal, sang
petugas berkata, “Wahai Amirul Mukminin, apakah engkau memiliki jaminan bahwa
engkau masih hidup bulan depan?”
Mendengar pertanyaan itu, Umar terdiam, air matanya menetes, dan
seketika itu juga, ia mengurungkan niatnya mengambil gaji bulan depan. Ia
khawatir mengambil sesuatu yang belum menjadi haknya di sisi Allah SWT.
Padahal, sebagai khalifah, Umar bisa saja memerintahkan apa pun dan
tidak ada yang berani menolak. Namun ketakwaannya jauh lebih besar daripada
kekuasaannya. Ia takut hartanya bercampur dengan sesuatu yang bukan haknya.
Inilah salah satu bukti ketaatan dan kehati-hatian (wara’) Umar bin
Abdul Aziz, pemimpin yang benar-benar sadar bahwa jabatan adalah amanah, bukan
sarana untuk memperkaya diri.
Sebagai pemimpin, Umar bin Abdul Aziz sejatinya bisa hidup dalam
limpahan harta dan kemegahan. Namun rasa takutnya kepada Allah SWT membuatnya
berhati-hati dalam setiap kepemilikan. Ia memilih jalan zuhud, memanfaatkan
dunia sekadar kebutuhan, dan menahan diri dari perkara yang syubhat apalagi
haram.
Kepemimpinan yang Adil dan Transparan
Sikap Umar terhadap kritik dari Salman ini menunjukkan bahwa pemimpin
sejati tidak anti terhadap koreksi. Umar membuka ruang dialog, menjelaskan
dengan jujur, dan tidak menutup diri apalagi lari dari rakyatnya. Ia memahami
bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan keistimewaan untuk berbuat semena-mena dan
sesuka hati.
Dari Khalifau Umar kita dapat memetic hikmah bahwa pemimpin yang adil
bukan hanya yang tidak berbuat curang, tetapi juga yang bersedia diawasi.
Sementara rakyat yang bijak bukan hanya yang patuh apapun kata pemimpinnya,
tetapi juga yang berani menegur ketika melihat penyimpangan. Rasulullah SAW
bersabda, “Tidak boleh taat dalam kemaksiatan. Ketaatan
hanya dalam hal yang makruf.” (HR. al-Bukhari)
Dari sini kita juga dapat mengambil pelajaran bahwa pemimpin harus
menjawab kritik dan pertanyaan rakyatnya dengan bijak, bukan dengan
jawaban-jawaban asal, menyepelekan, atau mengalihkan masalah, seperti yang
sering ditunjukkan oleh sebagian pejabat masa kini. Kritik tidak sepatutnya
dibalas dengan kemarahan, kekerasan, atau pembungkaman suara rakyat, melainkan
dijadikan bahan introspeksi dan perbaikan.
Rasulullah SAW bersabda, “Ada dua golongan dari penduduk
neraka yang belum pernah aku lihat: (salah satunya) Suatu kaum yang memiliki
cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia.” (HR. Muslim)
Para ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud dalam hadis
tersebut adalah aparat atau petugas yang menindas rakyat dengan kekerasan,
tanpa alasan yang dibenarkan. Imam An-Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim
menjelaskan bahwa “orang-orang yang membawa cambuk” adalah para pengawal
penguasa yang berbuat zalim.
Pada akhirnya, kisah teladan di atas mengajarkan kita bahwa
kekuasaan sejati bukan diukur dari kemewahan atau kebal terhadap kritik,
melainkan dari keberanian untuk berlaku adil, dan terbuka terhadap nasihat.
Pemimpin yang bijak tidak akan tersinggung oleh teguran rakyatnya, justru
bersyukur karena masih ada yang peduli. Sementara rakyat yang beriman tidak
diam ketika melihat kemungkaran, tetapi menyuarakan kebenaran dengan adab dan
keikhlasan. Semoga negeri ini masih ada pemimpin yang meneladani kesederhanaan
Umar dan keberanian Salman, sehingga kekuasaan menjadi sarana ibadah, bukan
jalan menuju kesombongan. Wallahu a’lam.
Tidak ada komentar