Header Ads

Header ADS

Hikmah Di Balik Musibah


Dr. Muhammad Nasri Dini

 

Di dunia ini kadang kita melihat hal yang membingungkan. Ada orang yang hidupnya dikenal sebagai muslim yang baik, rajin ibadah, suka menolong, santun, dan jauh dari maksiat, tapi ketika ajal menjemput, kematiannya tampak berat. Ada yang sakit lama, ada yang meninggal dalam kondisi sulit, bahkan ada yang secara lahiriah tampak seperti su’ul khātimah, akhir hidupnya tidak baik.

Sebaliknya, ada orang yang selama hidupnya jauh dari Allah bahkan tidak mengenal-Nya, banyak maksiat, keras hatinya, bahkan dikenal buruk di masyarakat. Tapi ketika meninggal, justru terlihat tenang, mudah, bahkan ada yang wajahnya tampak berseri, seolah husnul khātimah.

Kita pun bertanya-tanya, “Mengapa bisa begitu? Bukankah seharusnya orang shaleh mati dengan indah, dan orang zalim mati dengan susah?” Di sinilah letak rahasia hikmah Allah . Tidak semua yang tampak baik di mata kita adalah kebaikan sejati, dan tidak semua yang tampak buruk adalah keburukan hakiki. Karena dunia bukanlah tempat pembalasan yang sesungguhnya.

Bisa jadi, orang baik yang meninggal dalam keadaan sulit sedang disucikan dari dosa-dosanya, agar ketika menghadap Allah , ia benar-benar bersih dan hanya membawa kebaikan. Dan bisa jadi, orang jahat yang meninggal dengan mudah sedang menerima seluruh balasan amal baiknya di dunia, agar ketika menghadap Allah , ia tak lagi memiliki kebaikan sedikit pun yang bisa ditukarkan dengan pahala dan kenikmatan di akhirat.

Dalam hadis riwayat Imam Tirmidzi, hasan shahih menurut Al Albani, Nabi  bersabda, 

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَفَّى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.”

 

Lantas apa saja hikmah lain yang bisa kita ambil?

Pertama, kebaikan pasti dibalas dengan kebaikan

Setiap amal yang kita lakukan dengan benar dan Ikhlas tidak pernah sia-sia di sisi Allah . Sekecil apa pun kebaikan, pasti ada balasannya, karena Allah Maha Adil dan tidak pernah mengabaikan amal hamba-Nya. Allah dalam QS. Ar-Rahmān [55] ayat 60 menegaskan setiap kebaikan pasti akan dibalas, bisa di dunia atau di akhirat.

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَان

"Tidak ada balasan bagi kebaikan kecuali kebaikan (pula)."

Pada ayat yang lain dalam QS. Al Zalzalah [99] ayat 7-8 Allah berfirman,

 فَمَنۡ يَّعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرًا يَّرَهٗ ؕ‏ ٧ وَمَنۡ يَّعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ

Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.

 

Kedua, musibah adalah penghapus dosa

Sebagai manusia biasa, pasti pernah melakukan dosa dan kemaksiatan. Baik kecil atau besar, jarang atau sering. Maka Allah timpakan musibah sebagai hukuman yang disegerakan. Kesulitan yang dialami orang muslim bisa menjadi cara Allah membersihkan dosanya.

Dalam QS. Asy-Syūrā [42] ayat 30 Allah  berfirman,

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَن كَثِيرٍ

 Apa saja musibah yang menimpa kalian adalah akibat perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah banyak mengampuni (kesalahan).”

Dalam hadis riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim Rasulullah bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلاَ نَصَبٍ وَلاَ سَقَمٍ وَلاَ حَزَنٍ حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ إِلاَّ كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ

Tidaklah seorang mukmin ditimpa rasa sakit, kelelahan, penyakit, kesedihan, bahkan kegelisahan yang mengusiknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian kesalahannya karenanya."

 

Ketiga, musibah menambah pahala

Cobaan seringkali mengiringi para nabi dan orang-orang shaleh. Allah menjadikan sebagai kemuliaan bagi mereka agar mendapatkan derajat yang tinggi di surga kelak. Dalam hadis riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim, Nabi bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ شَوْكَةٍ فَمَا فَوْقَهَا إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً، أَوْ حَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً  

Tidaklah seorang mukmin terkena duri dan lebih dari itu melainkan Allah akan mengangkat derajat dengannya. Atau dihapuskan kesalahannya dengannya.”

Pada hadis lain yang diriwayatkan Imam HR. Bukhari, no. 2996, Rasulullah juga bersabda,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

Jika seorang hamba sakit atau melakukan safar (perjalanan jauh), maka dicatat baginya pahala sebagaimana kebiasaan dia ketika mukim dan ketika sehat.”

 

Jika musibah itu diterima dengan ikhlas dan sabar, maka Allah akan menjadikan pahala dan meninggikan derajat orang tersebut. Sebagaimana hadis riwayat Imam Abu Dawud (no. 3090, dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Abu Dawud no. 3090), Nabi bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا سَبَقَتْ لَهُ مِنَ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ، ابْتَلَاهُ اللَّهُ فِي جَسَدِهِ، أَوْ فِي مَالِهِ، أَوْ فِي وَلَدِهِ، ثُمَّ صَبَّرَهُ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى يُبَلِّغَهُ الْمَنْزِلَةَ الَّتِي سَبَقَتْ لَهُ مِنَ اللَّهِ

“Sesungguhnya seorang hamba, apabila Allah telah menetapkan baginya suatu kedudukan (tingkatan) di sisi-Nya yang tidak dapat ia capai dengan amal perbuatannya, maka Allah akan menimpakan cobaan padanya pada tubuhnya, hartanya, atau anaknya. Lalu Allah menjadikannya bersabar hingga ia mencapai kedudukan yang telah ditetapkan baginya itu.”

 

Maka sudah selayaknya kita terus berprasangka baik atas semua takdir dan ketentuan Allah , termasuk dalam hal musibah. Karena apa yang tampak buruk bagi kita, bisa jadi justru baik menurut Allah , begitu pula sebaliknya. Berbagai peristiwa yang menimpa manusia pada hakikatnya merupakan ujian keimanan.

Dalam QS. Al-Baqarah [2] ayat 216, Allah berfirman,

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Terakhir, marilah kita selalu belajar bahwa apa yang tampak di mata manusia belum tentu mencerminkan hakikat di sisi Allah . Karena itu, jangan tergesa menilai siapa pun dari apa yang tampak secara kasat mata. Yang terpenting bagi kita adalah menjaga hati agar selalu berprasangka baik kepada Allah , karena setiap takdir-Nya, sekecil apa pun, pasti mengandung hikmah, kasih sayang, dan keadilan yang sempurna. Wallahu a’lam

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh duncan1890. Diberdayakan oleh Blogger.