Etika Panitia Pengajian: Seni Memuliakan Ustadz
Di
sebuah rapat pengurus pengajian atau dalam obrolan di antara kami, mungkin bisa
jadi saya juga berada di dalamnya, pernah muncul pendapat seperti ini: “Untuk
pembicara, tidak usah disediakan istilahnya welcome snack atau welcome
drink. Toh, beliau-beliau datang juga langsung mengisi, setelah mengisi
biasanya juga langsung pulang, jadi yang kita sediakan tidak kemakan, tidak
keminum.”
Menurut
saya, logika seperti ini kok agak aneh ya. Atau bisa dibilang kurang bahkan tidak tepat
karena menyederhanakan konsep penghormatan terhadap tamu. Padahal dalam hadis
terkenal yang saya yakin banyak dihafal, Rasulullah berpesan, “Siapa saja
yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Menyediakan welcome
snack atau welcome drink bukan semata-mata untuk dikonsumsi, tetapi
sebagai salah satu bentuk memuliakan tamu. Apalagi tamu kita ini bukan tamu
biasa. Maka selain sebagai ucapan selamat datang, dalam konteks ini bisa
menjadi penghargaan kepada pembicara atas waktu dan ilmu yang sudah diluangkannya
untuk kita. Tidak mempersiapkannya hanya karena “tidak kemakan atau keminum” menurut
keyakinan saya bisa disebut mengabaikan etika dasar sebagai tuan rumah dan bisa
memberi kesan bahwa tamu tidak dihargai. Hal sederhana seperti ini justru
menunjukkan kesungguhan dan perhatian panitia, sekalipun pada akhirnya sebagian
tidak dikonsumsi, karena yang penting adalah niat untuk memuliakan dan sikap menghormati.
Selama
saya menjadi panitia atau mengurusi pengajian, jika saya berada di posisi
sebagai penanggung jawab pembicara, hal-hal yang wajib saya perhatikan adalah:
1. Penjemputan pembicara
Saya
lebih memprioritaskan pembicara dijemput, dibanding berangkat sendiri, apalagi
jika jaraknya relatif dekat, misalnya masih dalam kabupaten, atau masih di
wilayah Solo Raya lah. Jika pembicara dari jauh pun, saya pasti akan menyiapkan
penjemputan di bandara atau stasiun. Karena dengan dijemput, kita relatif aman
dan tidak perlu khawatir. Tidak perlu bertanya-tanya pembicaranya sudah sampai
mana. Beberapa kali saya pernah mengalami kegelisahan saat pembicara belum datang
dan tidak bisa dipantau karena berangkat sendiri.
2. Welcome drink atau welcome snack
Menurut
saya, hal ini tetap perlu disiapkan sebagai ucapan selamat datang dan bentuk
penghormatan. Sesederhana apapun, saya selalu berusaha menyiapkan, minimal:
satu macam roti, satu macam buah, satu macam teh, dan satu macam air mineral. Perkara
dimakan/diminum pembicara atau tidak, itu bukan masalah utama. Hal ini saya
anggap kewajiban sebagai tuan rumah untuk memuliakan tamu. Toh jika pembicara
tidak menghabiskan, dan pasti tidak mungkin semua dihabiskan lah, panitia pasti
akan menghabiskannya, jadi tidak mungkin mubazir.
3. Bisyaroh
Ini benar-benar wajib hukumnya. Biasanya saya
menyiapkan dalam dua bentuk: barang (misal kain batik, roti, atau parcel buah),
kemudian disisipkan amplop di dalamnya, sesedikit apapun isinya. Ini adalah
bentuk ucapan terima kasih kepada pembicara. Bahkan beberapa kali saya
membedakan isi amplop jika pembicara dijemput dengan pembicara yang berangkat
sendiri. Pembicara yang berangkat sendiri tentu isi amplopnya lebih banyak.
4. Makan besar
Ini
masuk poin sekunder mungkin ya. Utamanya jika pembicara berasal dari luar kota
atau luar daerah, saya biasanya merekomendasikan dalam rapat panitia untuk
menyediakan makan besar, entah di warung atau bagusnya ya di tempat transit.
Meski beberapa pembicara ada juga yang menolak makan setelah mengisi, terutama
jika mengisi setelah Isya, saya tetap menyiapkan. Jika dijemput sejak sore,
makan ini bisa disiapkan sebelum mengisi.
5. Dan lain-lain
Selain
beberapa poin di atas, pasti masih ada hal-hal yang terlewat dari pembahasan atau
tidak tertulis. Misal salah satunya berkaitan dengan pembicara dari luar kota,
biasanya kami juga menyiapkan penginapan dan akomodasi. Hal ini dilakukan agar
pembicara merasa nyaman, tidak kelelahan setelah perjalanan jauh, dan bisa
fokus saat mengisi pengajian. Selain itu, panitia biasanya juga membantu
transportasi dan pengawalan untuk mobilitas dari penginapan ke tempat acara.
Jangan ada yang salah sangka atau suuzan bahwa saya pribadi kalau mengisi penginnya semua ini disediakan karena “ingin dimanja” atau semacamnya lho ya. Sekali lagi saya sampaikan bahwa poin-poin di atas adalah yang kami sediakan jika saya berada di posisi pengurus atau dari sudut pandang panitia. Sejak 2004, ketika awal-awal saya mulai terlibat mengundang pembicara, saya selalu berusaha memuliakan dan menghormati beliau-beliau. Tentu sesuai kapasitas dan kemampuan panitia di mana saya berada, baik di sekolah, kampus, masjid, ataupun masyarakat dengan berbagai tingkatan. Pastinya masing-masing tempat berbeda-beda, sehingga tidak bisa disamakan satu dengan yang lain.

Tidak ada komentar