Header Ads

Header ADS

Sinergi Orang Tua dan Sekolah dalam Pendidikan Anak

 

Mengapa Sinergi itu Penting?

Masa remaja adalah masa mencari jati diri. Pada fase ini, anak mulai mengalami banyak perubahan. Mereka mulai:

  • lebih percaya kepada teman daripada orang tua;
  • mulai ingin mandiri;
  • mudah terpengaruh media sosial;
  • mulai tertarik kepada lawan jenis;
  • emosinya belum stabil;
  • mulai mempertanyakan aturan.

Anak berada di sekolah sekitar 7–8 jam, selebihnya di rumah dan lingkungan pergaulan. Kalau sekolah, rumah, dan lingkungan berbeda arah, anak akan bingung.

Jika fase ini berhasil dilewati, peluang menjadi remaja yang baik sangat besar. Namun, jika gagal, dampaknya dapat terbawa hingga dewasa.

Rasulullah bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

"Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, atau doa anak yang shaleh." (HR. Muslim)

Anak shaleh adalah harapan setiap orang tua. Terlebih ketika orang tua telah tiada, mereka terus mendapatkan manfaat dari anaknya, bukan hanya melalui doa, tetapi juga melalui amal shaleh yang dilakukan anak tersebut.

 

Siapa yang Bertanggung Jawab?

Orang tua adalah guru pertama bagi anak. Allah memerintahkan mereka untuk menjaga dan mendidik keluarganya, sedangkan rumah adalah sekolah pertama tempat karakter, akhlak, dan kebiasaan anak dibentuk.

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS. At-Tahrim: 6)

Rasulullah bersabda,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

"Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Tentang shalat pun, anak diperintahkan untuk diajak dan diajarkan sejak dini. Rasulullah bersabda,

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ

"Perintahkan anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun. Pukul mereka jika tidak mengerjakannya ketika mereka berumur sepuluh tahun, dan pisahkan tempat tidur mereka." (HR. Abu Dawud no. 495; dinyatakan sahih oleh Al-Hafizh Abu Thahir)

Tentang adab makan, Rasulullah pernah mendidik Umar bin Abi Salamah. Beliau bersabda,

يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

"Wahai anak kecil, sebutlah nama Allah (bacalah basmalah) ketika makan, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang ada di dekatmu." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam bukan hanya mengajarkan ibadah besar seperti shalat, tetapi juga membiasakan adab dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, orang tua berkewajiban mengajarkan akidah, ibadah, akhlak, adab, serta menjauhkan anak dari perkara yang haram dan perbuatan tercela.

Apabila orang tua memiliki keterbatasan ilmu atau waktu, mereka boleh meminta bantuan kepada lembaga pendidikan, seperti TPA, Madrasah Diniyah, pesantren, atau sekolah Islam. Namun, menyerahkan anak ke sekolah bukan berarti menyerahkan seluruh tanggung jawab pendidikan.

Sekolah adalah mitra orang tua, bukan pengganti orang tua. Guru membantu mendidik, tetapi tanggung jawab utama tetap berada di pundak ayah dan ibu.

 

Kadang Sekolah dan Rumah Tidak Sejalan

Anak tidak akan tumbuh secara optimal apabila rumah dan sekolah memberikan arah pendidikan yang berbeda. Padahal, keduanya seharusnya saling menguatkan.

Perbedaan itu sering terjadi dalam hal:

  • ibadah;
  • penggunaan gawai (HP);
  • menutup aurat;
  • pergaulan dengan lawan jenis;
  • kedisiplinan.

Misalnya:

  • Sekolah membiasakan shalat berjamaah, tetapi di rumah shalat tidak diperhatikan.
  • Sekolah mewajibkan berjilbab, tetapi di rumah orang tua tidak memberi teladan.
  • Sekolah membatasi penggunaan HP, tetapi di rumah anak bebas menggunakan gawai tanpa pengawasan.
  • Sekolah mengajarkan adab, tetapi di rumah anak melihat contoh yang berbeda.

Jika rumah dan sekolah tidak sejalan, anak akan bingung mengikuti siapa. Sebaliknya, ketika keduanya memiliki visi yang sama, pendidikan akan lebih mudah berhasil.

 

Orang Tua Mendukung Program Sekolah

Orang tua hendaknya mendukung berbagai program sekolah, seperti:

  • tahfizh Al-Qur'an;
  • shalat berjamaah;
  • infak dan kegiatan sosial;
  • pembinaan karakter;
  • kegiatan organisasi;
  • pembiasaan disiplin.

 

Pilar Keberhasilan

1. Doa

Keshalehan adalah hidayah dari Allah . Karena itu, orang tua dan guru hendaknya senantiasa mendoakan agar anak-anak menjadi generasi yang shaleh.

Allah berfirman,

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَنْ يُضْلِلْ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

"Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang merugi." (QS. Al-A'raf: 178)

Karena hidayah berada di tangan Allah , sudah semestinya kita memperbanyak doa. Para nabi telah memberikan teladan dalam berdoa.

Doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

"Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang termasuk orang-orang yang shaleh." (QS. Ash-Shaffat: 100)

Doa Nabi Zakaria alaihis salam

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

"Ya Rabbku, berilah aku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa." (QS. Ali 'Imran: 38)

Doa 'Ibadurrahman

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

"Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, serta jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Furqan: 74)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

"Ada tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan lagi, yaitu doa orang tua, doa musafir, dan doa orang yang dizalimi." (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi)

Jangan pernah mendoakan keburukan untuk anak.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda,

لاَ تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ.

"Janganlah kalian mendoakan keburukan untuk diri kalian sendiri, anak-anak kalian, maupun harta kalian." (HR. Muslim)

Doa buruk dilarang karena bisa saja bertepatan dengan waktu dikabulkannya doa sehingga akhirnya hanya mendatangkan penyesalan.

Dalam riwayat Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah bersabda,

لاَ تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ بِخَيْرٍ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ

"Janganlah kalian mendoakan keburukan untuk diri kalian. Doakanlah yang baik-baik, karena para malaikat mengaminkan apa yang kalian ucapkan." (HR. Abu Dawud)

Tentang doa buruk, kita dapat mengambil ibrah dari kisah Juraij yang didoakan buruk oleh ibunya. Adapun tentang doa baik, kita dapat mengambil pelajaran dari kisah ibu Syaikh Abdurrahman As-Sudais.

 

Kekuatan Doa Orang Tua untuk Anaknya

Ulama Kuwait, Syaikh Fahad Al-Kandari, bercerita:

"Dulu ketika saya mengimami sebuah masjid di Kuwait, saya lupa membaca sebuah ayat. Ternyata hanya ada satu orang yang membetulkan bacaan saya, yaitu seorang kakek tua."

Syaikh Fahad bertanya,

"Kek, apakah Anda hafal Al-Qur'an?"

"Iya," jawab sang kakek.

"Masya Allah, tentu Anda menghafalnya sejak kecil?"

"Tidak. Saya baru mulai menghafal Al-Qur'an ketika berusia 60 tahun."

"Apa rahasianya?"

"Ibu saya tidak pernah berhenti mendoakan agar saya menjadi penghafal Al-Qur'an hingga beliau wafat."

Pesan bagi para orang tua: jangan pernah berhenti mendoakan kebaikan untuk anak, meskipun saat ini ia sulit diatur atau berbuat nakal. Hidayah berada di tangan Allah. Bisa jadi suatu hari nanti ia menjadi anak yang shaleh berkat doa yang tidak pernah putus.

 

2. Orang Tua dan Guru Harus Berusaha Menjadi Shaleh

Jika menginginkan anak yang shaleh, orang tua juga harus memperbaiki diri. Jangan berharap anak menjadi baik sementara orang tua masih gemar bermaksiat, meninggalkan shalat, enggan menutup aurat, dan sebagainya.

Sebagian ulama salaf bahkan memperbanyak ibadah demi kebaikan anak-anak mereka. Sa'id bin Al-Musayyib pernah berkata kepada anaknya, "Wahai anakku, sungguh aku terus menambah shalatku karena mengharapkan engkau menjadi anak yang shaleh."

'Umar bin 'Abdul Aziz juga berkata, "Setiap mukmin yang meninggal dunia dalam keadaan menjaga kewajiban-kewajiban kepada Allah, maka Allah akan senantiasa menjaga anak dan keturunannya setelah ia meninggal."

 

Tentang Biaya Pendidikan

1. Pembayaran biaya sekolah adalah bagian dari kesepakatan.

الْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ

"Kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat (kesepakatan) mereka." (HR. Abu Dawud)

Pendidikan pada hakikatnya merupakan kewajiban orang tua. Apabila sebagian kewajiban tersebut dibebankan kepada sekolah, maka orang tua juga perlu menyadari konsekuensi yang menyertainya. Jangan sampai justru berlaku zalim dengan mengabaikan kewajiban yang telah disepakati.

2. Menunda pembayaran biaya sekolah adalah bentuk kecurangan.

Menuntut hak, tetapi lalai menunaikan kewajiban, merupakan salah satu bentuk kecurangan.

Allah berfirman,

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ ۝١ الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ ۝٢ وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ ۝٣

"Celakalah orang-orang yang curang dalam takaran dan timbangan. Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, tetapi apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi." (QS. Al-Muthaffifin: 1–3)

3. Membiayai penuntut ilmu adalah sebuah keutamaan.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, "Pada masa Nabi ada dua orang bersaudara. Yang satu rajin menghadiri majelis Nabi untuk menuntut ilmu, sedangkan yang lain bekerja mencari nafkah. Lalu orang yang bekerja mengadukan saudaranya kepada Nabi . Beliau bersabda,"

لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ

"Boleh jadi engkau mendapatkan rezeki karena sebab saudaramu (yang menuntut ilmu)." (HR. At-Tirmidzi)

 

Penutup
Sinergi orang tua dan sekolah bukan sekadar pilihan, tetapi kebutuhan. Ketika rumah dan sekolah berjalan seiring dalam mendidik, mendoakan, dan memberi teladan, insyaallah akan lahir generasi yang berkarakter, berprestasi, disiplin, dan shalih. Semoga Allah
memudahkan ikhtiar kita dalam mendidik anak-anak yang menjadi penyejuk hati di dunia dan penyelamat bagi orang tuanya di akhirat. Aamiin.

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh duncan1890. Diberdayakan oleh Blogger.