Pengalaman Seleksi Dosen di Universitas Muhammadiyah Klaten (Part 2)
Ketika Penantian Berbuah Amanah
Tulisan pertama berjudul “Pengalaman Seleksi Dosen di Universitas Muhammadiyah Klaten (Part 1)” saya tutup dengan kalimat, “semoga cerita bisa saya
lanjutkan.” Ternyata Allah benar-benar memberi kesempatan kepada saya
untuk melanjutkan cerita itu.
Setelah mengikuti seleksi pada 27 Juli 2026, saya pun masuk pada fase
berikutnya: menunggu pengumuman. Kalau mengikuti jadwal, seleksi gelombang
kedua dilaksanakan pada 3 Agustus 2026. Bayangan saya, paling lambat tanggal 10
Agustus sudah ada pengumuman siapa saja yang diterima. Ternyata perkiraan saya
meleset. Tanggal 10 Agustus lewat, pengumuman belum juga ada.
Menunggu itu ternyata memang pekerjaan yang cukup melelahkan. Apalagi
kalau yang ditunggu menyangkut masa depan. Mau berharap terlalu tinggi takut
kecewa, tetapi kalau tidak berharap sama sekali juga tidak mungkin.
Akhirnya pada 12 Agustus saya menghubungi panitia melalui WhatsApp
secara pribadi. Saya tanyakan dengan bahasa sederhana yang poin intinya:
kira-kira kapan pengumuman akan disampaikan?
Panitia menjawab bahwa karena kesibukan para pimpinan, rapat pleno untuk
menentukan hasil seleksi baru bisa dilaksanakan pada Jumat, 14 Agustus 2026.
Oalah... ternyata masih harus bersabar lagi.
Pengalaman Seleksi Dosen di Universitas Muhammadiyah Klaten (Part 1)
Akhirnya Pengumuman Itu Datang
Setelah rapat pleno, saya kembali menunggu dengan harap-harap cemas. Sampai akhirnya pada 18
Agustus 2026, selepas Ashar masuk sebuah pesan WhatsApp pribadi dari panitia.
Deg-degan pastinya ketika membuka pesan tersebut. Ternyata itu pengumuman hasil
seleksi. Dan alhamdulillah... Saya termasuk salah satu dari lima dosen yang
diterima. Ada rasa lega, tentu saja. Ada rasa syukur. Ada juga rasa tidak
percaya, karena sejak awal saya memang tidak yakin sepenuhnya akan lolos.
Sebagaimana saya ceritakan di Part 1, dari informasi yang kami terima,
awalnya akan diterima empat orang. Sementara calon yang mengikuti proses
seleksi cukup banyak, sekitar 17 orang.
Dalam pikiran saya, ada satu orang yang dalam bayangan saya hampir pasti
diterima. Beliau sudah cukup lama menjadi dosen tidak tetap di sana. Jadi,
kalau benar hanya empat yang akan diterima, saya berpikir tinggal tiga kursi
yang diperebutkan oleh 16 orang lainnya. Sudah semakin kecil saja peluangnya.
Ternyata saya salah perhitungan. Beliau yang sudah lama mengajar justru
tidak diterima. Asumsi saya, salah satu pertimbangannya adalah ijazah beliau
tidak linear dengan Program Studi Pendidikan Agama Islam.
Dari situ saya kembali diingatkan bahwa dalam urusan rezeki, manusia
memang sering kali hanya bisa menghitung berdasarkan apa yang terlihat.
Sementara keputusan akhirnya tetap menjadi hak prerogatif Allah.
Yang kita anggap pasti, ternyata belum tentu. Yang kita anggap kecil
peluangnya, ternyata bisa menjadi kenyataan. Dan saya termasuk di dalam lima
orang yang kemudian dinyatakan diterima. Alhamdulillah.
Bukan Lagi Pelamar
Dalam surat pengumuman itu kami juga diminta datang lagi ke kampus pada
27 Agustus 2026 untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. Nah, tanggal 27
Agustus itu terasa sedikit berbeda. Kalau sebelumnya saya datang ke UMKLA
sebagai pelamar yang mengikuti seleksi dosen, kali ini saya datang sebagai
orang yang sudah dinyatakan diterima. Statusnya sudah berbeda.
Kami berlima kemudian ditemui oleh Rektor, Wakil Rektor, Dekan FAI, dan
Kaprodi PAI, ada juga bagian SDM. Pertemuan tersebut intinya memberikan
penjelasan mengenai selayang pandang atau seluk beluk dunia perdosenan utamanya
di UMKLA, berbagai hal yang berkaitan dengan tugas dan kewajiban dosen,
sekaligus penyampaian draf kontrak kerja yang harus kami tandatangani. Kami
juga mendapatkan informasi bahwa pada 1 September 2026 nanti kami sudah mulai
ngantor.
Wah, ternyata benar-benar “mulai”. Tidak lagi sekadar cerita tentang
seleksi. Sekarang sudah masuk pada tahap akan menjalani.
Ketika Melihat Nominal
Kontrak kerja yang disampaikan sebenarnya relatif normatif. Berisi hak
dan kewajiban kami sebagai dosen, demikian juga hak dan kewajiban kampus. Jadi
tidak ada yang terlalu mengejutkan.
Sampai kemudian mata saya tertuju pada satu bagian: “nominal”. Nah,
kalau yang satu ini tentu memang lebih menarik perhatian. Saya sempat
membatin. “Wah...”
Ternyata bukan hanya saya yang merasakan. Salah satu dosen baru yang
diterima bersama kami bahkan dengan spontan dan cukup berani mengatakan kepada
Pak Rektor, “Syok nominal, Prof!” Saya yang mendengarnya hanya bisa tersenyum,
seakan juga lega ada yang berani mengungkapkan.
Pak Rektor kemudian menanggapi dengan santai bahwa rezeki itu tidak
hanya berasal dari gaji. Bisa saja datang dari jalan yang lain. Beliau juga
menyampaikan permohonan maaf sekaligus menjelaskan bahwa kemampuan universitas
saat ini memang baru sebesar itu. Namun, seiring dengan perkembangan UMKLA,
tentu ada harapan kesejahteraan dosen ke depan juga semakin baik, bahkan lebih
dari sekadar layak.
Memang, kalau melihat nominal yang tertulis di kontrak, saya juga sempat
terdiam. Sekitar separonya hanya akan habis untuk transport dari rumah saya ke
kampus.
Sebab, sebelumnya Pak Rektor pernah menyampaikan kepada saya saat
wawancara bahwa gaji yang akan saya terima kurang lebih hampir sama dengan gaji
terakhir saya ketika masih di Imam Syuhodo. Maka ekspektasi saya sebenarnya
juga tidak terlalu tinggi. Ternyata setelah melihat angka yang tertulis di atas
kertas, saya baru memahami bahwa “hampir sama” itu memang bisa memiliki banyak
tafsir. Hehehe.
Tapi di sinilah saya kemudian berpikir lebih jauh. Apakah saya menerima
pekerjaan ini hanya karena semata-mata nominal gajinya? Tentu tidak. Kalau
ukurannya semata-mata gaji, mungkin saya harus berpikir berkali-kali.
Bismillah, Ini Tentang Perjuangan
Ada satu hal yang kemudian membuat saya semakin mantap untuk mengatakan
bismillah dan menandatangani kontrak tersebut. Di antaranya karena saya melihat
sosok Pak Rektor.
Beliau sendiri sebenarnya berada dalam posisi yang menurut saya sudah
sangat nyaman. Beliau sebelumnya berada di UMY, salah satu perguruan tinggi
Muhammadiyah yang besar. Secara akademik beliau juga sudah berada pada posisi
guru besar.
Tetapi kemudian beliau mendapatkan amanah dari Persyarikatan untuk
meninggalkan kenyamanan tersebut dan ikut berjuang membangun UMKLA. Padahal
UMKLA masih dalam proses berkembang. Jarak dari kediaman beliau ke Klaten juga
bukan jarak yang dekat. Namun beliau memilih untuk datang dan ikut berjuang
membesarkan kampus ini.
Saya kemudian berpikir, kalau seorang guru besar rela meninggalkan
kenyamanan untuk ikut membangun kampus Muhammadiyah yang masih berkembang,
masak saya yang baru mulai ini sudah sibuk menghitung nominal?
Bukan berarti nominal tidak penting. Tentu saja penting. Bahkan sangat
penting. Kita juga punya keluarga dan kebutuhan hidup. Tetapi saya kemudian
melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Ada amanah di sana. Ada perjuangan.
Dan ada kesempatan untuk ikut mengambil bagian dalam membesarkan amal usaha
Muhammadiyah.
Saya teringat kembali dengan apa yang saya sampaikan ketika wawancara
dulu. Ketika ditanya tentang motivasi, saya mengatakan kurang lebih: “Niat
utama saya adalah hidup-hidupilah Muhammadiyah.” Waktu itu kalimat tersebut
keluar dalam suasana wawancara.
Sekarang kalimat itu terasa mendapatkan makna yang berbeda. Sebab
setelah diterima, pertanyaannya bukan lagi: “Apakah saya diterima?”
Pertanyaannya berubah menjadi: “Setelah diterima, apa yang bisa saya
lakukan untuk ikut membesarkan Muhammadiyah?”
Diterima Bukan Akhir
Kalau Part 1 adalah cerita tentang bagaimana saya mencoba mengikuti
proses seleksi, maka Part 2 ini adalah cerita tentang bagaimana akhirnya saya
mendapatkan kesempatan itu.
Tetapi saya sadar, diterima sebagai dosen bukanlah akhir dari
perjalanan. Justru ini adalah awal. Dulu setelah saya mengirim berkas lamaran.
Menunggu panggilan. Kemudian hadir mengikuti tes dan wawancara. Lalu pulang
membawa harapan.
Kini saya kembali ke tempat yang sama bukan lagi sebagai pelamar, tetapi
sebagai bagian dari keluarga besar UMKLA. Perbedaannya bukan sekadar status.
Dulu saya datang untuk berharap diterima. Sekarang saya datang untuk
membuktikan bahwa kepercayaan yang diberikan kepada saya tidak sia-sia.
Menjadi dosen bukan hanya soal berdiri di depan kelas dan menyampaikan
materi. Ada mahasiswa yang harus dibimbing, ada ilmu yang harus terus
dipelajari, ada tulisan yang harus dihasilkan, ada penelitian dan pengabdian
masyarakat yang harus dilakukan, dan tentu ada tanggung jawab untuk ikut
membangun kampus tempat kita mengabdi.
Apalagi ini kampus Muhammadiyah. Maka ada tanggung jawab tambahan:
bagaimana keberadaan saya sebagai dosen tidak hanya memberikan manfaat secara
akademik, tetapi juga menjadi bagian dari dakwah dan perjuangan Persyarikatan.
Saya tidak tahu akan seperti apa perjalanan saya di UMKLA ke depan.
Apakah akan mudah? Tentu tidak selalu. Apakah akan selalu sesuai dengan
harapan? Belum tentu. Tetapi satu hal yang saya tahu, saya sudah memilih untuk
memulainya.
Dengan segala kekurangan yang saya miliki, dengan pengalaman yang masih
harus terus ditambah, dan dengan segala keterbatasan yang ada, saya ingin
menjalani amanah ini dengan sebaik-baiknya.
Bukankah sejak awal kita tidak pernah benar-benar tahu ke mana Allah
akan membawa langkah kita? Kadang kita hanya diminta berjalan. Berusaha.
Berdoa. Lalu menerima keputusan-Nya.
Dari 17 orang yang mengikuti proses seleksi, Allah menetapkan lima orang
untuk menjadi bagian dari UMKLA. Dan salah satunya ternyata saya. Maka untuk
kesempatan ini, saya hanya bisa mengatakan: Alhamdulillah.
Semoga ini bukan sekadar diterima menjadi dosen. Semoga ini menjadi jalan untuk belajar, mengabdi, berdakwah, dan ikut membesarkan Muhammadiyah. Bismillah, semoga Allah menuntun dan memberkahi perjalanan yang baru dimulai.



Tidak ada komentar