Header Ads

Header ADS

Berbakti kepada Orang Tua: Jalan Menuju Surga dan Keberkahan Hidup


Berbakti kepada kedua orang tua merupakan salah satu amal yang sangat agung dalam Islam. Allah ﷻ dan Rasul-Nya memberikan perhatian besar terhadap kewajiban ini. Bahkan, Allah ﷻ menggandengkan perintah berbuat baik kepada orang tua dengan perintah untuk hanya menyembah-Nya. Allah ﷻ berfirman:

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًا ۗ 

“Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.” (QS. Al-Isra’ [17]: 23)

Bahkan, berbakti kepada orang tua, terutama ketika mereka telah memasuki usia lanjut, merupakan kesempatan besar bagi seorang anak untuk meraih surga.

Karena itu, selama orang tua masih hidup, jangan sia-siakan kesempatan untuk berbakti kepada mereka. Berikut beberapa keutamaan dan pelajaran penting tentang berbakti kepada orang tua.

1. Menjadi Jalan Menuju Surga

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

رَغِمَ أَنْفُهُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ. قِيلَ: مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ، أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا، ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ.

“Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina.” Ada yang bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orang tuanya ketika telah lanjut usia, salah satu dari keduanya atau keduanya, kemudian ia tidak masuk surga.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan betapa besar kesempatan yang dimiliki seorang anak ketika orang tuanya masih hidup, khususnya ketika mereka telah lanjut usia. Melayani, merawat, menghormati, dan memenuhi kebutuhan mereka dapat menjadi sebab seseorang memperoleh surga.

 

2. Menjadi Sebab Dilapangkan Rezeki dan Dipanjangkan Umur

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُمَدَّ لَهُ فِي عُمْرِهِ، وَأَنْ يُزَادَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، فَلْيَبَرَّ وَالِدَيْهِ، وَلْيَصِلْ رَحِمَهُ.

“Barang siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya, maka hendaklah ia berbakti kepada kedua orang tuanya dan menjalin silaturahim dengan kerabatnya.” (HR. Ahmad)

Berbakti kepada orang tua bukan hanya memberikan manfaat bagi mereka. Allah ﷻ juga menjadikan birrul walidain sebagai salah satu sebab datangnya keberkahan dalam kehidupan seorang anak.

 

3. Menjadi Sarana Taubat

Berbakti kepada orang tua juga dapat menjadi salah satu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ setelah seseorang melakukan dosa.

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

أَتَى النَّبِيَّ ﷺ رَجُلٌ، فَقَالَ: إِنِّي أُذْنِبُ ذَنْبًا عَظِيمًا، فَهَلْ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: هَلْ لَكَ مِنْ أُمٍّ؟ وَفِي رِوَايَةٍ: هَلْ لَكَ وَالِدَانِ؟ قَالَ: لَا. قَالَ: فَهَلْ لَكَ مِنْ خَالَةٍ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَبِرَّهَا.

“Seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ, lalu berkata, ‘Sesungguhnya aku telah melakukan dosa yang besar. Apakah masih ada kesempatan bagiku untuk bertaubat?’ Beliau bertanya, ‘Apakah kamu masih memiliki ibu?’ Dalam riwayat lain disebutkan, ‘Apakah kamu masih memiliki kedua orang tua?’ Ia menjawab, ‘Tidak.’ Beliau bertanya, ‘Apakah kamu memiliki bibi (saudari dari ibu)?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, ‘Kalau begitu, berbaktilah kepadanya.’” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Hibban; dishahihkan oleh Al-Albani)

Hadis ini menunjukkan luasnya pintu kebaikan. Ketika seseorang kehilangan kesempatan berbakti kepada kedua orang tuanya, ia tetap dapat berbuat baik kepada kerabat yang memiliki kedudukan dekat dengan orang tua.

 

4. Menjadi Wasilah dalam Terkabulnya Doa

Salah satu kisah paling masyhur tentang keutamaan berbakti kepada orang tua adalah kisah tiga orang yang terjebak di dalam gua.

Dari Abu ‘Abdirrahman, yaitu Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ada tiga orang dari umat sebelum kalian yang melakukan perjalanan. Ketika mereka sampai di suatu tempat, mereka bermalam di sebuah gua dan masuk ke dalamnya. Tiba-tiba sebuah batu besar jatuh dari gunung dan menutup pintu gua, sehingga mereka terjebak di dalamnya.

Mereka pun berkata, ‘Tidak ada yang dapat menyelamatkan kita dari batu besar ini kecuali kita berdoa kepada Allah Ta’ala dengan menyebutkan amal saleh yang pernah kita lakukan dengan ikhlas.’

Salah seorang di antara mereka kemudian berkata:

‘Ya Allah, aku memiliki kedua orang tua yang telah lanjut usia. Aku tidak pernah memberikan minuman kepada siapa pun sebelum memberikan minuman kepada keduanya. Aku lebih mendahulukan kedua orang tuaku daripada keluarga dan harta (budak) yang kumiliki.

Suatu hari, aku pergi mencari kayu di tempat yang jauh. Ketika aku pulang, ternyata kedua orang tuaku telah tertidur. Aku pun memerah susu untuk mereka. Namun, aku tidak mau memberikan susu itu kepada keluarga ataupun harta(budak)ku sebelum kedua orang tuaku meminumnya.

Aku tetap menunggu hingga keduanya bangun. Mereka baru terbangun ketika waktu Subuh, sementara gelas susu masih berada di tanganku. Setelah keduanya bangun, aku pun memberikan susu tersebut kepada mereka.

Ya Allah, jika aku melakukan semua itu semata-mata karena mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesulitan yang sedang kami hadapi ini.’

Kemudian batu besar yang menutup gua itu bergeser sedikit. Namun, mereka masih belum dapat keluar dari gua.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kisah tersebut memberikan pelajaran bahwa berbakti kepada orang tua merupakan amal saleh yang sangat besar nilainya. Keikhlasan dalam berbakti kepada mereka dapat menjadi wasilah seseorang dalam memohon pertolongan kepada Allah ﷻ.

 

5. Harta Anak, Hak Orang Tua, dan Kewajiban Anak untuk Berbakti

Dalam persoalan harta, terdapat hadis yang sering dijadikan dasar pembahasan mengenai hak orang tua terhadap harta anak.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَنْتَ وَمَالُكَ لِوَالِدِكَ

“Engkau dan hartamu milik orang tuamu.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Namun, hadis tersebut tidak berarti bahwa orang tua boleh mengambil harta anak secara mutlak dan tanpa batas. Para ulama menjelaskan adanya ketentuan dan batasan dalam pemanfaatan harta anak.

Di antaranya, orang tua tidak mengambil harta anak dengan cara yang menimbulkan mudarat bagi anak, tidak mengambil harta yang sangat dibutuhkan anak untuk kebutuhan pokoknya, tidak mengambilnya untuk diberikan kepada anak yang lain secara zalim, serta tidak menggunakan harta tersebut untuk berbuat mubazir atau menghamburkannya. Artinya, orang tua juga memiliki kebutuhan atau hajat terhadap harta yang diambilnya.

Dalam hal ini, ada sebuah kisah yang memberikan pelajaran tentang bagaimana seorang anak seharusnya memandang orang tuanya.

Seorang penanya datang kepada seorang syaikh. Ia berkata, “Wahai Syaikh, ibuku tinggal menumpang bersamaku di rumahku. Kemudian terjadi masalah antara beliau dengan istriku.”

Sang syaikh kemudian berkata, “Ulangi pertanyaanmu!”

Penanya itu pun mengulangi, “Ibuku tinggal menumpang bersamaku di rumahku…”

Sang syaikh kembali berkata, “Ulangi pertanyaanmu!”

Penanya mengulangi lagi kalimat yang sama. Namun, untuk ketiga kalinya sang syaikh berkata, “Ulangi lagi pertanyaanmu!”

Penanya kemudian berkata, “Wahai Syaikh, izinkan saya menyelesaikan pertanyaan terlebih dahulu. Jangan dipotong.”

Sang syaikh kemudian menjelaskan, “Pertanyaanmu keliru. Yang benar, engkaulah yang hidup menumpang pada ibumu, meskipun rumah itu milikmu dan atas namamu.”

Mendengar jawaban tersebut, penanya pun berkata, “Baik, wahai Syaikh. Kalau demikian, selesai sudah permasalahannya.”

Kisah tersebut mengingatkan kita para anak maupun menantu agar tidak mudah merasa telah berjasa kepada orang tua hanya karena kita memberikan tempat tinggal, makanan, atau harta kepada mereka.

Bukankah dahulu orang tua yang merawat kita ketika kita belum mampu melakukan apa-apa?

Mereka mengorbankan waktu, tenaga, harta, dan kenyamanan hidup demi anak-anaknya. Maka ketika mereka telah tua dan membutuhkan bantuan kita, janganlah kita menjadikan mereka sebagai beban.

 

Penutup

Jangan durhaka kepada orang tua. Jangan pula menjadi anak yang mudah mengeluh ketika harus merawat mereka di masa tua. Justru ketika orang tua semakin lemah, semakin besar pula kesempatan seorang anak untuk mendapatkan pahala melalui birrul walidain.

Rumah yang kita miliki, harta yang kita kumpulkan, dan kesuksesan yang kita rasakan tidak seharusnya membuat kita lupa kepada dua orang yang dahulu merawat kita ketika kita belum memiliki apa-apa.

Berbaktilah kepada orang tua selagi mereka masih hidup. Karena ketika kesempatan itu telah pergi, penyesalan tidak akan mengembalikannya.

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh duncan1890. Diberdayakan oleh Blogger.