Apa Cuma Mas yang Tahu Hadis "Panjangkan Shalat, Pendekkan Khutbah"?
Sejak
pertama ditugasi sebagai khatib Jumat 20an tahun lalu, saya selalu berusaha memendekkan khutbah.
Dulu, ketika kebanyakan khatib berbicara sekitar 30 menit, saya membatasi maksimal
di menit ke-20. Kini, saat durasi 20 menit mulai menjadi standar di banyak
masjid dan khatib, saya memilih untuk menyelesaikannya dalam waktu sekitar 10
menit.
Rasulullah SAW
bersabda,
إِنَّ
طُولَ صَلاَةِ الرَّجُلِ وَقِصَـرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ
فَأَطِيلُوا الصَّلاَةَ وَاقْصُرُوا الْخُطْبَةَ وَإِنَّ مِنَ الْبَيَانِ
لَسِحْرًا.
“Sesungguhnya
panjangnya shalat seseorang dan pendek khutbahnya itu menjadi ciri pemahaman
yang baik dalam agama. Oleh karena itu, perpanjanglah shalat dan perpendeklah
khutbah. Dan sesungguhnya di antara bagian dari penjelasan itu mengandung daya
tarik.” (HR.
Muslim)
Prinsip
ini mengingatkan saya pada masa kuliah belasan tahun lalu saat mengisi kegiatan mentoring. Saya
pernah menyampaikan kepada adik-adik tingkat bahwa durasi khutbah Jumat Rasulullah
SAW itu lebih pendek daripada shalatnya. Mengingat surat yang dibaca saat
shalat Jumat biasanya adalah Al-A’la dan Al-Ghasyiyah yang terhitung tidak
panjang, maka khutbah beliau tentu lebih singkat dari itu. Abu Hurairah RA berkata,
“Aku
pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca keduanya
(surat Al-A’la dan Al-Ghasyiyah) pada hari Jumat.” (HR. Muslim)
Mendengar
penjelasan tersebut, ada di antara anggota mentoring melontarkan pertanyaan
unik yang masih saya ingat hingga sekarang, “Mas, apa hadis itu hanya Njenengan
saja yang tahu? Kenyataannya, banyak orang kalau khutbah panjang sekali,
sementara shalatnya malah lebih pendek. Berarti mereka tidak tahu hadis itu,
ya?
Kurang lebih seperti itu pertanyaannya, saya bahkan masih ingat siapa yang bertanya. Tapi saya malah agak lupa jawaban lengkap saya saat itu, namun seingat saya, saya hanya menyampaikan bahwa, “Mungkin secara umum, orang memang pada dasarnya suka banyak bicara.”
Jika
saya perhatikan sekilas, para khatib yang durasi khutbahnya panjang sering kali
berasal dari kalangan sepuh. Mungkin bagi mereka, khutbah Jumat adalah ajang
aktualisasi diri karena terbatasnya kesempatan berbicara di depan publik. Mumpung
diberi kesempatan ngomong.
Di
sisi lain, khatib yang sangat muda pun terkadang juga khutbahnya terlalu panjang
dan berputar-putar. Saya pikir, mungkin karena mereka menganggap khutbah Jumat tersebut
sebagai kesempatan berharga untuk melatih kemampuan berbicara di depan umum.
Mumpung ada kesempatan bicara.
Atau mungkin ada alasan lain yang mungkin kita sebagai jamaah tidak mengetahuinya, kenapa para khatib Jumat tersebut memilih untuk memperpanjang khutbahnya. Meskipun saya yakin para khatib itu juga pasti tahu hadis tentang “Panjangkan Shalat, Pendekkan Khutbah”. Wallahu a'lam.
Sejatinya momen
khutbah Jumat merupakan kesempatan dakwah yang unik. Karena kita harus
menyesuaikan waktu dengan tepat saat khutbah. Jika tidak pandai-pandai mengatur
waktu dan retorika, merasa terlalu lama sang khatib berbicara, maka sangat
mungkin kita akan ditinggal tidur oleh jamaah.
Tentu
kita maklum jika ada di antara saudara kita yang baru mau shalat berjamaah pada
hari Jumat dan mendengarkan ceramah hanya pada waktu khutbah Jumat. Maka
khutbah yang kita lakukan pun harus singkat, padat, jelas dan bermakna. Agar
bisa menjadi salah satu wasilah hidayah bagi mereka.

Tidak ada komentar