Dilema Khatib Saat Ditawari Poligami
Saya dihubungi untuk menjadi khatib Idulfitri jauh sebelum masuk Ramadan. Setelah ada pengumuman pemerintah yang tampaknya berbeda dengan maklumat Muhammadiyah, saya sempat mengkonfirmasi ulang bahwa saya akan berlebaran pada hari Jumat. Mengingat yang mengundang saya ini bukan dari pengurus Muhammadiyah, saya sampaikan bahwa jika mereka melaksanakan Idulfitri pada hari Sabtu, silakan agar mencari pengganti saja.
Namun bapak yang mengundang saya ini istimewa. Beliau tidak hanya memastikan lewat WA, tetapi sampai datang langsung ke rumah. Katanya, supaya lebih sopan. Selain itu, karena sebelumnya kami juga belum pernah saling mengenal, beliau juga khawatir nanti pada hari H saya malah dikira sebagai jamaah biasa.
Beliau bahkan menawarkan agar panitia menyiapkan tim penjemput pada hari H nanti. Saya pun menjawab terus terang, bahwa saya bukan ustadz besar. Jadi, insyaAllah saya akan berangkat sendiri saja. Bismillah, semoga Allah memberikan kebaikan kepada beliau dan juga kepada para jamaah di sana.
Setelah saya menyanggupi satu tempat, seperti biasa masih ada beberapa tempat lain yang menghubungi. Tentu tidak mungkin dong semuanya saya sanggupi karena waktunya bersamaan dengan tempat yang berbeda.
Nah ini yang unik, kemarin sempat ada juga yang menghubungi melalui WA dan mengajukan permohonan untuk hari Sabtu. Lantas, kira-kira enaknya saya harus bagaimana ya?

Tidak ada komentar