Header Ads

Header ADS

Da’i Pendosa


Salah satu agenda bulan Ramadhan yang beberapa tahun terakhir ini saya ikuti adalah kegiatan tarling (tarawih keliling) ke luar daerah: Jumapolo, Jumantono di Karanganyar, bahkan beberapa kali ke Eromoko Wonogiri. Biasanya wilayah tarling ini berhubungan dengan warga Wonorejo yang istrinya berasal dari daerah tersebut, atau memiliki kerabat di sana.

Sore kemarin, saya diajak teman-teman muda ke Jatipuro, Karanganyar.


Tarling Ramadhan 1447 H PRPM Wonorejo

Kami berangkat sebelum pukul lima sore, karena biasanya saat waktu berbuka sudah harus tiba di lokasi, biar tidak terburu-buru. Perjalanan awalnya lancar. Namun, baru sampai daerah Miri Bulu, Polokarto, saya cek gmap sekitar 10 km dari rumah, ban mobil kempes. Bocor. Kami mencari tambal ban, tetapi kata warga setempat yang kami tanya, adanya cukup jauh. Untungnya ada ban serep, maka segera kami ganti terlebih dahulu.

Mengalami hal itu, pertama yang saya ucapkan adalah sayyidul istighfar. Musibah tidak datang menimpa kita melainkan karena dosa-dosa kita. Sebagaimana Allah berfirman: “Apa saja musibah yang menimpa kalian adalah akibat perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah banyak mengampuni (kesalahan).” (QS. Asy-Syura [42]: 30)

Dan orang yang paling banyak dosa di kendaraan ini, pasti adalah saya. Seorang da'i banyak mengajak kepada kebaikan, tapi belum tentu melaksanakan ajakannya, dan ini adalah dosa.

Ban sudah diganti. Mobil kembali berjalan sekitar 12 km, lalu terasa oleng. Ternyata ban serep yang dipasang menggantikan ban bocor tadi ikut bocor, bahkan lebih parah. Saya semakin merenung, mengingat apa saja dosa-dosa yang saya lakukan. Kembali beristighfar. Bahkan teringat kisah Nabi Yunus yang harus dibuang dari kapal karena dianggap menjadi sebab ketidakstabilan kapal yang beliau tumpangi.

Meski demikian, dalam hati saya tetap mengucapkan, alhamdulillah ‘ala kulli hal, dalam segala keadaan kita tetap harus memuji-Nya.

Beruntung, mobil berhenti tepat di depan masjid, dan pas waktu azan maghrib, artinya saatnya berbuka tiba. Lebih beruntung lagi, alhamdulillah, ada salah satu jamaah masjid yang ternyata tukang tambal ban.

Setelah shalat maghrib dan melanjutkan perjalanan, kami sampai di lokasi tarling hampir waktu Isya. Kami masih sempat menyantap makan yang disediakan oleh masjid tuan rumah. Saat makan saya berfikir, bahan kultum yang sebelumnya telah saya siapkan, seketika saya ganti menjadi “Hikmah di Balik Musibah.”

Dan luar biasanya, ternyata musibah ini bukan kejadian yang pertama. Saya jadi teringat dua tahun lalu saat saya ke masjid yang sama, disambut dengan mati lampu dari isyak sampai witir selesai. Beruntung, pas saya mau kultum listrik menyala. Alhamdulillah...

Pasti ada kebaikan dalam setiap kejadian. Di antaranya, agar saya, seorang da’i pendosa ini, bisa bertaubat dan terus memperbanyak istighfar kepada Allah. Juga agar teman-teman muda yang membersamai saya, derajatnya naik di sisi Allah, dan mendapat pahala yang banyak dari-Nya atas musibah ini. “Tidaklah seorang mukmin terkena duri dan lebih dari itu melainkan Allah akan mengangkat derajat dengannya. Atau dihapuskan kesalahannya dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh duncan1890. Diberdayakan oleh Blogger.