Ketika Lisan Pemimpin Menjadi Tantangan bagi Dunia Pendidikan
Dr. Ahmas Nasri
Menjadi pendidik di negeri ini semakin hari
terasa semakin berat. Di ruang-ruang kelas, para guru dengan sabar menanamkan
adab kepada murid-muridnya. Mereka mengajarkan sabda Rasulullah ï·º,
“Barang siapa yang beriman kepada Allah
dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Guru mengingatkan bahwa lisan adalah cermin
kepribadian. Kata-kata kasar, umpatan, dan makian bukanlah akhlak seorang
muslim, apalagi seorang yang terdidik. Bahkan Al-Qur'an memerintahkan,
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar
mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.” (QS. Al-Isra': 53)
Namun, pelajaran di sekolah sering kali
berbenturan dengan kenyataan yang disaksikan anak-anak di ruang publik.
Tantangan Keteladanan di Ruang Publik
Ketika seorang presiden dengan mudah
mengucapkan kata-kata kasar seperti “end*smu” hingga “b*jing*n”
dalam forum terbuka, sesungguhnya yang dipertaruhkan bukan sekadar pilihan
diksi. Yang dipertaruhkan adalah keteladanan. Sebab, seorang pemimpin bukan
hanya didengar karena jabatannya, tetapi juga ditiru karena posisinya.
Lebih memprihatinkan lagi ketika dalam sebuah
forum, seorang Menteri Pendidikan justru terlihat seakan mengaminkan ucapan
tersebut. Bagi seorang pendidik, itu adalah kesempatan yang terlewat untuk
menunjukkan keberpihakan kepada nilai-nilai pendidikan.
Seandainya kita sebagai guru berada di posisi
itu, tentu kita tidak akan mempermalukan presiden atau membantahnya secara
terbuka. Cukup dengan isyarat yang santun, misalkan melambaikan tangan pelan
atau memberi tanda silang sambil tetap tersenyum, sebagai pesan bahwa kata-kata
seperti itu tidak layak diucapkan karena menjadi contoh buruk bagi peserta
didik. Menghormati pemimpin adalah adab, tetapi menjaga marwah pendidikan juga
merupakan amanah.
Harapan itu terasa semakin wajar mengingat
Menteri Pendidikan berasal dari Muhammadiyah, sebuah gerakan Islam yang sejak
awal berdirinya menjadikan pendidikan sebagai jalan dakwah dalam membangun
peradaban. Muhammadiyah mendidik bukan hanya agar anak-anak menjadi pintar,
tetapi juga agar mereka menjadi manusia yang berakhlak.
Ketika Anak-Anak Meniru Tokoh Publik
Masalahnya, saat ini anak-anak belajar bukan
hanya dari buku pelajaran. Mereka juga belajar dari apa yang mereka lihat,
mereka dengar, dan dari siapa yang mereka kagumi. Dalam ilmu pendidikan dikenal
bahwa keteladanan sering kali lebih kuat daripada nasihat. Apa yang dilakukan
tokoh publik mudah sekali menjadi pembenaran bagi perilaku generasi muda.
Maka jangan heran apabila suatu hari guru
menegur murid yang berkata kasar, “Siapa yang mengajari kamu berbicara seperti
itu?”
Bisa jadi jawabannya sederhana, tetapi
mengandung ironi yang dalam, “Lho, Pak Guru tidak tahu? Yang ngomong begitu kan
Presiden.”
Kalimat itu mungkin terdengar satir. Namun,
justru di situlah letak kegelisahannya. Bukan karena anak-anak sedang
membangkang, melainkan karena mereka sedang meniru.
Tanggung Jawab Lisan Seorang Pemimpin
Islam mengajarkan bahwa setiap pemimpin akan
dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Rasulullah ï·º
bersabda,
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap
kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Karena itu, pemimpin tidak cukup hanya
mengambil keputusan yang benar. Ia juga dituntut memberi teladan yang benar.
Lisan seorang pemimpin bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga salah satu
instrumen pendidikan bagi segenap anak bangsa.
Sekolah boleh terus mengajarkan adab. Guru
boleh terus mengingatkan pentingnya menjaga lisan. Orang tua boleh terus
menasihati anak-anaknya agar berkata baik. Namun, semua ikhtiar itu akan jauh
lebih ringan apabila para pemimpin bangsa ikut menjadi teladan.
Sebab, pendidikan bukan hanya soal apa yang diajarkan, tetapi juga siapa yang memberi contoh. Wallahul Musta’an.

Tidak ada komentar