Syarah Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah
Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah (MADM)
bukan sekadar rumusan organisasi, tetapi merupakan landasan pemikiran dan arah
perjuangan Muhammadiyah dalam menjalankan ajaran Islam. Di dalamnya terdapat
pandangan tentang bagaimana manusia harus bertauhid, hidup bermasyarakat,
menjadikan hukum Allah ﷻ
sebagai pedoman, berjuang menegakkan agama, mengikuti jejak para Nabi, serta
membangun kehidupan masyarakat yang diridhai Allah ﷻ.
Karena itu, memahami (MADM) bukan hanya untuk mengetahui dasar dan ideologi Persyarikatan,
tetapi untuk meneguhkan kembali jati diri dan tanggung jawab kita sebagai warga
serta pimpinan Muhammadiyah. Setidaknya terdapat tujuh poin penting yang dapat
kita renungkan bersama.
Pertama, Hidup Manusia Bertauhid
“Amma ba’du, bahwa sesungguhnya ke-Tuhanan
itu adalah hak Allah semata-mata. Ber-Tuhan dan beribadah serta tunduk dan taat
kepada Allah adalah satu-satunya ketentuan yang wajib atas tiap-tiap makhluk,
terutama manusia.”
Manusia tidak diciptakan untuk mengabdi
kepada jabatan, harta, popularitas, organisasi, manusia, atau kepentingan
duniawi lainnya. Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah ﷻ. Allah
ﷻ berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ ٥٦
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia
kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56)
Dari Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu,
Rasulullah ﷺ bersabda:
حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوْهُ وَلَا يُشْرِكُوْا بِهِ
شَيْئًا، وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ
بِهِ شَيْئًا
“Hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para
hamba-Nya adalah mereka beribadah hanya kepada-Nya dan tidak
mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Sedangkan hak para hamba yang Allah
janjikan adalah bahwa Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak mempersekutukan-Nya
dengan sesuatu pun.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Karena itu, kalimat:
رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا
وَرَسُولًا
bukan sekadar kalimat yang indah untuk
diucapkan. Ia adalah komitmen hidup.
Setiap warga Muhammadiyah perlu bermuhasabah:
Untuk siapa saya beramal dan menjalani kehidupan? Apakah amal dan aktivitas
saya mendekatkan diri kepada Allah ﷻ,
atau justru mengejar pengakuan manusia? Karena itu, kehidupan warga
Muhammadiyah harus berlandaskan tauhid: beramal karena Allah ﷻ,
bukan demi nama dan kepentingan pribadi.
Kedua, Hidup Manusia Bermasyarakat
“Hidup bermasyarakat itu adalah sunnah (hukum
qudrat iradat) Allah atas kehidupan manusia di dunia ini.
Masyarakat yang sejahtera, aman damai, makmur
dan bahagia hanyalah dapat diwujudkan di atas keadilan, kejujuran, persaudaraan
dan gotong-royong, bertolong-tolongan dengan bersendikan hukum Allah yang
sebenar-benarnya, lepas dari pengaruh syaitan dan hawa nafsu.”
Islam memandang manusia sebagai makhluk
sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Hidup bermasyarakat merupakan bagian
dari ketetapan Allah ﷻ.
Karena itu, kesalehan seorang muslim tidak hanya terlihat dari hubungannya
dengan Allah ﷻ,
tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan sesama. Allah ﷻ
berfirman:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى
وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami
menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”
(QS. Al-Hujurat [49]: 13)
Masyarakat Islami menurut Muhammadiyah adalah
masyarakat yang dibangun di atas keadilan, kejujuran, persaudaraan dan
gotong-royong, dan saling menolong, bukan atas hanya untuk kepentingan pribadi,
keserakahan, atau hawa nafsu. Karena itu, hadirnya Muhammadiyah di tengah masyarakat
harus memberi manfaat nyata. Allah ﷻ
berfirman:
وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ
“Tolong-menolonglah kamu
dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam
berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Maidah [5]: 2)
Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu
‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
المؤْمِنُ يَأْلَفُ وَيُؤْلَفُ، وَلاَ خَيْرَ فِيْمَنْ لاَ يَأْلَفُ وَلاَ
يُؤْلَفُ، وَخَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Seorang mukmin itu adalah orang yang bisa
menerima dan diterima orang lain, dan tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak
bisa menerima dan tidak bisa diterima orang lain. Dan sebaik-baik manusia
adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Thabrani)
Karena itu, Muhammadiyah jangan hanya
dipahami sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan yang hadir dan memberi
manfaat di tengah masyarakat. Tidak hanya dalam persoalan keagamaan, tapi dalam
persoalan pendidikan, sosial, maupun kemiskinan, Muhammadiyah hadir dan ikut
mencari solusi. Ukuran keberhasilan Muhammadiyah bukan sekadar banyaknya rapat
atau kegiatan seremonial, tetapi seberapa besar kebaikan yang tumbuh dan
manfaat yang dirasakan masyarakat karena kehadirannya.
Ketiga, Berhukum dengan Hukum Allah ﷻ
“Agama Allah yang dibawa dan diajarkan oleh
sekalian Nabi yang bijaksana dan berjiwa suci, adalah satu-satunya pokok hukum
dalam masyarakat yang utama dan sebaik-baiknya.”
Allah ﷻ
berfirman:
اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ
نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ
“Pada hari ini telah Aku
sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku
ridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Maidah [5]: 3)
Allah ﷻ
berfirman:
وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكٰفِرُوْنَ
“Siapa yang tidak memutuskan (suatu
urusan) menurut ketentuan yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang
kafir.” (QS. Al-Maidah [5]: 44)
Rasulullah ﷺ
bersabda:
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا:
كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ
“Aku telah tinggalkan kepada kalian dua
perkara, yang kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada
keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik, Al-Hakim,
Al-Baihaqi)
Islam memberikan pedoman bagi kehidupan
manusia, baik dalam urusan ibadah maupun muamalah. Sumbernya adalah Al-Qur’an
dan Sunnah, dengan ijtihad para ulama sebagai ikhtiar untuk memahami dan
menerapkan prinsip-prinsip syariat dalam berbagai persoalan yang terus
berkembang.
Karena itu, dalam menghadapi berbagai
persoalan kehidupan, seorang muslim menjadikan wahyu Allah ﷻ
sebagai pedoman utama. Allah ﷻ
berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا
الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًاࣖ ٥٩
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah
Allah dan taatilah Rasul (Nabi Muhammad) serta ululamri (pemegang kekuasaan) di
antara kamu. Jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada
Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunahnya) jika kamu beriman kepada Allah dan hari
Akhir. Yang demikian itu lebih baik (bagimu) dan lebih bagus akibatnya (di
dunia dan di akhirat).” (QS. An Nisa’ [4]: 59)
Keempat, Berjuang Menegakkan Agama Islam
adalah Kewajiban
“Menjunjung tinggi hukum Allah lebih daripada
hukum yang manapun juga, adalah kewajiban mutlak bagi tiap-tiap orang yang
mengaku ber-Tuhan kepada Allah.”
Kalimat ini mengandung pesan bahwa menjadi muslim
tidak cukup hanya meyakini dan menjalankan agama untuk diri sendiri. Islam
harus diperjuangkan agar nilai-nilainya hadir dalam kehidupan masyarakat. Allah
ﷻ berfirman:
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ
بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ١٠٤
“Hendaklah ada di antara kamu segolongan
orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan
mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS
Ali-Imran [3]:104)
Ayat ini menunjukkan bahwa umat Islam
memiliki tanggung jawab untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah
kemungkaran. Inilah salah satu landasan Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam dan
gerakan dakwah.
Perjuangan tersebut dapat diwujudkan melalui
jihad, yakni kesungguhan dalam mengerahkan kemampuan, pikiran, harta, dan
tenaga untuk kebaikan di jalan Allah ﷻ. Termasuk
di dalamnya adalah melaksanakan amar makruf nahi mungkar sesuai dengan
kemampuan. Rasulullah ﷺ
bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ
يَستَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ
الإِيْمَانِ
“Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran,
ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak
bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)
Dalam konteks Muhammadiyah, jihad bukan
sekedar berbicara di mimbar, tetapi diwujudkan melalui dakwah dan amal usaha nyata:
menghidupkan masjid dan pengajian, membina kader dan generasi muda,
menyelenggarakan pendidikan, membantu kaum dhuafa, serta memberdayakan
masyarakat. Pertanyaannya bukan hanya: “Apa program kita?”, tetapi lebih jauh: “Apa
yang sudah kita perjuangkan untuk agama?
Kelima, Perjuangan Dilakukan dengan Ittiba'
Para Nabi, Terutama Nabi Muhammad ﷺ
“Agama Islam adalah Agama Allah yang dibawa
oleh sekalian Nabi, sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad saw., dan diajarkan
kepada umatnya masing-masing untuk mendapatkan hidup bahagia Dunia dan Akhirat.
Syahdan, untuk menciptakan masyarakat yang
bahagia dan sentausa sebagai yang tersebut di atas itu, tiap-tiap orang,
terutama umat Islam, umat yang percaya akan Allah dan Hari Kemudian, wajiblah
mengikuti jejak sekalian Nabi yang suci: beribadah kepada Allah dan berusaha
segiat-giatnya mengumpulkan segala kekuatan dan menggunakannya untuk
menjelmakan masyarakat itu di Dunia ini, dengan niat yang murni-tulus dan
ikhlas karena Allah semata-mata dan hanya mengharapkan karunia Allah dan
ridha-Nya belaka, serta mempunyai rasa tanggung jawab di hadirat Allah atas
segala perbuatannya, lagi pula harus sabar dan tawakal bertabah hati menghadapi
segala kesukaran atau kesulitan yang menimpa dirinya, atau rintangan yang
menghalangi pekerjaannya, dengan penuh pengharapan perlindungan dan pertolongan
Allah Yang Maha Kuasa.”
Perjuangan menegakkan agama harus mengikuti
jejak para Nabi, terutama Rasulullah ﷺ. Allah
ﷻ berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, pada (diri) Rasulullah
benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al Ahzab [33]: 21)
Ittiba' kepada Rasulullah ﷺ
bukan hanya mengikuti ibadah beliau, tetapi juga mengikuti akhlak, kesungguhan
berdakwah, kesabaran, keikhlasan, dan cara beliau membangun masyarakat. Rasulullah
ﷺ bersabda:
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ
الْمَهْدِيِّينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
“Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan
sunnah khulafa’ur rasyidin yang mendapatkan petunjuk (dalam ilmu dan amal).
Pegang teguhlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian.” (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi,
dan Ibnu Majah. Sahih menurut Al-Albani)
Karena itu, perjuangan Muhammadiyah harus
mengikuti jejak para Nabi: beribadah kepada Allah ﷻ,
mengerahkan segala kekuatan untuk mewujudkan masyarakat yang bahagia dan
sentosa, dengan niat yang murni, tulus dan ikhlas karena Allah ﷻ,
serta bertanggung jawab di hadapan-Nya.
Dalam perjuangan, kita harus sabar, tawakal,
dan bertabah hati menghadapi berbagai kesulitan dan rintangan.
Itulah makna ittiba' kepada Nabi Muhammad ﷺ:
mengikuti beliau dalam ibadah, perjuangan, kesabaran, dan usaha mewujudkan
masyarakat yang diridhai Allah ﷻ.
Keenam, Organisasi adalah Alat Perjuangan
“Pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 Hijriyah atau
18 Nopember 1912 Miladiyah, oleh almarhum KHA. Dahlan didirikan suatu
persyarikatan sebagai “gerakan Islam” dengan nama “MUHAMMADIYAH” yang disusun
dengan Majelis-Majelis (Bahagian-bahagian)-nya, mengikuti pereran zaman serta
berdasarkan “syura” yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawatan
atau Muktamar.”
Ini menunjukkan bahwa perjuangan Islam
membutuhkan organisasi. Allah ﷻ
berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِهٖ صَفًّا
كَاَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَّرْصُوْصٌ ٤
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang
yang berperang di jalan-Nya dalam satu barisan, seakan-akan mereka suatu
bangunan yang tersusun kukuh.” (QS. Ash-Shaff [61]: 4)
Ayat ini mengajarkan pentingnya barisan yang
rapi, kebersamaan, dan keteraturan dalam perjuangan.
Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu
pernah memberikan sebuah nasihat dalam salah satu khutbahnya:
سَيَدِيلُونَ مِنْكُمْ بِاجْتِمَاعِهِمْ عَلَى بَاطِلِهِمْ،
وَتَفَرُّقِكُمْ عَنْ حَقِّكُمْ
“Mereka akan mengalahkan kalian karena mereka
bersatu di atas kebatilan mereka, sementara kalian tercerai-berai dari
kebenaran kalian.”
Sebab, bersama belum tentu terorganisasi.
Banyak orang yang berkumpul, tetapi tidak memiliki arah, pembagian tugas, dan
tujuan yang sama. Kebenaran yang diperjuangkan secara sendiri-sendiri dapat
menjadi lemah, sedangkan kekuatan perjuangan akan lahir ketika potensi yang
banyak disatukan dalam sebuah barisan, dengan organisasi.
Karena itu, Muhammadiyah bukan tujuan akhir,
tetapi alat perjuangan untuk mewujudkan cita-cita Islam. Islam adalah agama
kita, sedangkan Muhammadiyah menjadi wadah perjuangan untuk mengamalkan
nilai-nilai Islam dalam kehidupan.
Ketujuh, Tujuan Perjuangan Dunia dan Akhirat
Kesemuanya itu, perlu untuk menunaikan
kewajiban mengamalkan perintah-perintah Allah dan mengikuti sunnah Rasul-Nya,
Nabi Muhammad saw., guna mendapat karunia dan ridla-Nya di dunia dan akhirat,
dan untuk mencapai masyarakat yang sentausa dan bahagia, disertai nikmat dan
rahmat Allah yang melimpah-limpah, sehingga merupakan:
بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
“Suatu negara yang indah, bersih suci dan
makmur di bawah perlindungan Tuhan Yang Maha Pengampun”.
Maka dengan Muhammadiyah ini, mudah-mudahan umat
Islam dapatlah diantarkan ke pintu gerbang Syurga “Jannatun Na’im” dengan
keridlaan Allah Yang Rahman dan Rahim.
Islam mengajarkan bahwa kehidupan dunia
adalah tempat beramal dan berjuang, sedangkan tujuan akhirnya adalah memperoleh
ridha Allah ﷻ dan kebahagiaan di akhirat. Allah ﷻ
berfirman:
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ
نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Dan, carilah pada apa yang telah
dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu
lupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qasas [28]: 77)
Ayat ini menegaskan bahwa akhirat adalah
orientasi utama, sedangkan dunia adalah tempat dan sarana untuk beramal menuju
kehidupan akhirat. Karena itu, perjuangan kita harus dilakukan dengan ikhtiar,
doa, dan tawakal. Ketika berhasil, kita bersyukur; ketika diuji, kita bersabar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ
ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ
خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ.
“Sungguh menakjubkan keadaan seorang
mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang
mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika
mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)
Penutup
Dari ketujuh poin penting tersebut, kita
dapat melihat bahwa perjuangan Muhammadiyah berangkat dari tauhid, diwujudkan
dalam kehidupan bermasyarakat, berpedoman pada ajaran Allah ﷻ,
ditempuh dengan mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ,
dan diarahkan untuk menghadirkan kemaslahatan bagi semesta. Semua perjuangan
itu pada akhirnya bukan untuk kebesaran Persyarikatan ini semata, melainkan
sebagai bentuk ibadah kepada Allah ﷻ
dan ikhtiar menuju masyarakat yang adil, makmur, dan diridhai Allah ﷻ,
dengan harapan memperoleh karunia-Nya di dunia dan keselamatan di akhirat. Nasrun
minallāhi wa fatḥun qarīb, wa basysyiril-mu’minīn.
*) Disampaikan oleh Dr. Muhammad Nasri Dini
dalam Pengajian Pimpinan Ranting Muhammadiyah dan KOKAM Ranting Padasan, Cabang
Blimbing, di Warung Bakso Jaya Muda, Ahad, 20 September 2026.


Tidak ada komentar