Melati di Meja Dakwah: Menyelami Perjalanan Muhammadiyah
Beberapa hari lalu saya menerima hadiah sebuah buku langsung dari penulisnya, Ustadz Muhammad Utama Al Faruqi. Setelah membacanya hingga selesai, saya menyimpulkan bahwa isi buku ini sangat bagus dan layak direkomendasikan.
Meskipun buku setebal 210 ini membicarakan tentang perjalanan Muhammadiyah, menurut saya tetap nyaman dan relevan pula dibaca oleh kalangan umum. Pembahasannya cukup lengkap, tidak hanya tentang Muhammadiyah, tetapi juga ortom-ortom, dan beberapa amal usahanya.
Bagian pertama berisi sejarah singkat, meliputi sejarah Kantor PP Muhammadiyah, sejarah Majelis Tarjih, sejarah Kokam Yogyakarta, hingga penjelasan menarik bahwa Sang Surya bukanlah Mars Muhammadiyah. Pada bagian ini juga terdapat pembahasan yang cukup menarik tentang hubungan Kiai Dahlan dengan Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab, serta beberapa topik sejarah lainnya.
Bagian kedua membahas dakwah dan pelayanan umat, di antaranya seni bergaul dalam dakwah, kaderisasi, serta konsep “mencari hidup” di Muhammadiyah. Ada pula tulisan yang cukup menarik, seperti gagasan bahwa seluruh AUM pada hakikatnya adalah masjid, dan tulisan-tulisan reflektif lainnya.
Bagian ketiga mengulas tentang kaderisasi, mulai dari konsep kaderisasi ala Imam Syafi’i, Imam Al-Ghazali, hingga Imam Ibnu Mubarak, disertai beberapa tulisan lainnya. Namun, pada bagian ini ada sedikit hal yang mengganjal bagi saya. Misalnya, pembahasan tentang bunuh diri serta tulisan “Kajian, Klitih, dan Konvoi” yang terasa kurang nyambung dengan tema besar kaderisasi. Mungkin penulisnya punya sudut pandang sendiri yang tidak diketahui pembaca.
Begitu pula tulisan tentang fenomena nikah paksa beda ideologi. Meskipun penulis tidak menyebut nama secara langsung, penggunaan inisial dan identitas tertentu terasa cukup mudah dikenali, sehingga perhatian pembaca berpotensi lebih tertuju pada sosok yang dimaksud daripada pada ibrah yang ingin disampaikan.
Bagian keempat berisi wawasan kemuhammadiyahan, meliputi tiga identitas Muhammadiyah, tafsir semboyan Pemuda Muhammadiyah, serta NA, IPM, dan IMM. Di bagian ini juga ada “bumbu” Wahabi dan Salafi yang pasti semakin menambah cita rasa dong jika bicara tentang persyarikatan ini.
Bagian kelima sekaligus terakhir merupakan kumpulan materi tematik, mulai dari ibrah, barakah, sihir modern, prasangka, dan tema-tema lainnya.
Jangan membayangkan buku ini berat. Seluruh materi disampaikan dengan bahasa yang ringan, mengalir, dan enak dibaca.

Tidak ada komentar