Hadiah dari Riyadh: Serba Serbi Umrah dan Haji
Pada tulisan sebelumnya saya telah
menceritakan hadiah buku dari Ustadz H. Budi Marta Saudin, Lc., M.A. yang saat
ini tinggal dari Riyadh Arab Saudi. Kali
ini saya ingin mengulas buku kedua yang beliau hadiahkan kepada saya, berjudul “Pesona
Haramain: Catatan Perjalanan Umrah, Haji, dan Melayani Tamu Allah” karya beliau.
Buku ini diterbitkan oleh Pustaka Haura Utama, Sukabumi, dan merupakan cetakan
pertama yang terbit pada Oktober 2025.
Tulisan tentang buku pertama dapat dibaca kembali di sini “Hadiah dari Riyadh: Hikmah Kehidupan dari Arab Saudi”.
Secara isi, buku setebal 195
halaman ini terbagi ke dalam empat bagian. Bagian pertama berjudul “Melayani
Tamu Allah” yang mengisahkan pengalaman penulis saat menjadi petugas haji,
mulai dari menghadapi jamaah yang tidak bisa berbahasa Indonesia, keterlibatan
dalam tim pencari jamaah hilang, hingga pelajaran berharga yang diperoleh dari
jamaah haji asal India dan pengalaman-pengalaman lainnya.
Bagian kedua, “Jejak Cinta di
Haramain”, menceritakan beragam sisi kehidupan di Arab Saudi, seperti kisah
muslim Rohingya di Tanah Haram, fenomena pengemis di Tanah Suci, menjadi santri
di Masjidil Haram, parkir berbayar, penyapu jalan di dekat terminal, serta
cerita-cerita unik lainnya.
Bagian ketiga mengangkat tema “Perjalanan
Haji”, yang berisi pengalaman pribadi penulis dalam menunaikan ibadah haji,
mulai dari undangan haji gratis dari Raja Salman, kesan terhadap polisi Saudi
yang murah senyum, pelajaran spiritual dari ibadah haji, haji offroada
(ini tidak salah ketik, memang bukan haji furoda, hehe), hingga tentang
“haji koboi” pada masa Nabi.
Adapun bagian keempat membahas “Wisata
Kuliner ala Saudi”, seperti roti legendaris “tamis”, nasi Arab, oseng ati
onta, makanan Cina di Saudi, bakso onta, dan aneka kuliner khas lainnya yang
dapat dijumpai di sana.
Kelebihan buku ini terletak pada
kekayaan pengalaman penulis yang telah berkali-kali menunaikan ibadah haji,
mulai dari undangan Raja Salman pada tahun 2016, karena pada tahun 2018 penulis melanjutkan kuliah di King Saud University (KSU) Riyadh, pada tahun 2019 dan 2022
berkesempatan menjadi panitia PPIH, hingga berhaji lagi dengan kuota dalam negeri
Saudi pada tahun 2023. Pengalaman panjang empat kali melaksanakan ibadah haji tersebut membuat buku ini terasa
hidup, sarat hikmah, dan sangat layak untuk dibaca.
Selain itu, penulis juga mengangkat
persoalan-persoalan serius seputar hukum dan fikih haji dengan gaya yang santai
dan mudah dipahami, seperti pembahasan apakah naik ke Gua Hira termasuk ritual
haji, sikap egoisme dalam ibadah, hukum mabit di Mina, haji dan badal haji,
serta tema-tema lainnya.
Adapun kelemahan buku ini,
sebagaimana buku pertama penulis yang pernah saya ulas, masih ditemukan cukup
banyak kesalahan ketik. Juga ketidakkonsistenan ejaan, misal penulisan “shalat”,
kadang ditulis “sholat”. Mungkin karena asal buku ini adalah catatan pribadi
beliau yang sebelumnya diposting pada media sosial pribadi, dan tidak diedit
secara menyeluruh oleh editor sebelum diterbitkan. Selain itu, terdapat
beberapa bagian yang menyebutkan foto tertentu namun tidak disertakan, misalnya
pada halaman 123 dan 148.
Meski demikian, secara umum buku ini sangat layak dibaca, terutama bagi orang-orang yang sedang bersiap atau merencanakan perjalanan ke Tanah Suci, baik untuk menunaikan ibadah haji maupun umrah. Atau juga oleh orang-orang yang pernah ke sana, bisa jadi pelepas rindu. Selain itu, siapapun yang merindukan dua Tanah Haram akan sedikit terobati saat membaca lembar demi lembar buku ini. Tidak percaya? Buktikan saja sendiri!
Tidak ada komentar