Singgasana Da'i Kampung
Tulisan
ini sama sekali bukan dimaksudkan untuk mengoreksi pengelola pengajian, takmir
masjid, atau panitia kegiatan. Ini murni sekadar menyampaikan sudut pandang dan
pengalaman pribadi sebagai pengisi pengajian kampung.
Hanya
memang kalau kebetulan panitia sebelumnya menawarkan konsep mimbar pembicara,
biasanya saya sampaikan saja mana yang paling membuat saya nyaman. Tapi kalau
tidak ditawarkan atau sudah ditentukan dari awal, ya saya manut saja.
Bagaimanapun, kita datang untuk memberikan pengajian, bukan malah merepotkan
tuan rumah.
Biasanya
mubaligh akrab dengan mimbar. Tapi pada kenyataannya, tidak hanya satu jenis
mimbar saja yang tersedia. Setiap tempat pengajian, baik di masjid, pengajian
RT, mushala kecil, maupun majelis yang lain punya jenis “panggung”-nya
masing-masing. Tulisan ini sekadar mengulas singkat macam-macam “mimbar” yang
biasa disediakan, berikut sedikit catatan rasa dari pengalaman pribadi.
1.
Mimbar berdiri
Ini
yang paling umum, biasanya ada di masjid. Idealnya mimbar ini memang dipakai
untuk tampilan singkat seperti khutbah Jum’at. Atau kalau acara-acara untuk
sambutan yang sifatnya singkat. Untuk pengajian yang agak lama, menurut saya
kurang kondusif. Berdiri terus dengan posisi yang relatif tetap kadang membuat
suasana jadi agak kaku dan kurang nyaman.
2.
Mimbar pendek atau meja dengan kursi
Nah,
ini menurut saya yang paling nyaman untuk mengisi pengajian. Apalagi kalau
kursinya pakai kursi “kantor” yang bisa muter itu, ngisinya jadi lebih
fleksibel untuk bergerak dan menoleh ke berbagai arah jamaah. Ada meja untuk
meletakkan buku atau contekan, ada sandaran untuk punggung. Kombinasi yang
cukup membuat nyaman saat ngoceh.
3.
Meja pendek tanpa kursi
Seperti
meja TPA mungkin ya. Pembicara duduk di lantai, meja di depan. Ini kadang malah
membuat kaki agak pegal, hehe. Posisi duduk perlu sering disesuaikan supaya
tidak terlalu kaku. Menurut saya, mengisi dengan posisi seperti ini maksimal nyaman
cuma sekitar 30 menit mungkin.
4.
Tanpa meja atau mimbar
Pembicara
duduk lesehan, ada pula yang berdiri tanpa penopang apa-apa. Mic pun juga
kadang langsung dipegang tanpa stand. Model seperti ini mungkin terasa akrab dan
mendekat dengan jamaah, tapi dari sisi kenyamanan kadang kurang mendukung,
terutama kalau membawa catatan seperti saya.
5.
Hanya kursi tanpa meja
Misalnya
seperti pengajiannya para ustadz kondang itu, pakai kursi sofa, kursi busa,
atau kursi saja lah. Secara tampilan mungkin terlihat lebih santai ya. Tapi Kembali
lagi, saya ini mubaligh dengan contekan. Kalau modelnya seperti ini, mau
nyontek kan jadi agak susah, hehe. Tidak ada tempat untuk menaruh catatan, jadi
harus pintar-pintar menyiasati.
Selain
singgasana, dari segi mic, saya pribadi paling nyaman malah kalau pakai “mic
pilot”. Tangan bisa bergerak ke mana-mana, lebih bebas berekspresi. Atau
minimal mic yang ada stand-nya di meja. Kalau mic yang dipegang itu, kadang
harus menyesuaikan jarak dengan mulut, terlalu jauh suaranya kecil, terlalu
dekat jadi ngeprek. Belum lagi kadang ada rasa-rasa nyetrum sedikit, atau
minimal tangan seperti kesemutan. Entah karena nyetrum beneran, atau hanya
karena perasaan saja, hehe.
Begitulah,
ternyata urusan mimbar dan mic pun ada seninya. Bagi jamaah mungkin terlihat
sepele, tapi bagi mubaligh, kenyamanan posisi dan alat sangat memengaruhi
kelancaran menyampaikan materi. Pada akhirnya, apa pun model mimbar dan
mic-nya, yang terpenting tetap bagaimana pesan itu sampai dengan baik dan hati
tetap terjaga niatnya.
Kepada siapa pun yang pernah mengundang saya, mohon dimaafkan jika postingan ini menimbulkan rasa kurang berkenan. Semoga Allah senantiasa menguatkan panjenengan semua dalam mengurus majelis-Nya. Jazakumullahu khairan, barakallahu fikum.

Tidak ada komentar