Marhaban ya Ramadhan…
Marhaban ya Ramadhan…
Dulu, saya pernah
beberapa kali berada pada fase ketika Ramadhan adalah sesuatu yang sangat
dirindukan.
Menjelang kedatangannya, hati dipenuhi harap untuk segera berjumpa.
Saat menjalaninya, hati tetap diselimuti kekhawatiran, takut tidak mampu
menuntaskannya dengan baik.
Setiap hari saya
berdoa agar Allah memberi kekuatan untuk menyelesaikan Ramadhan hingga akhir.
Menuntaskan dalam dua makna: mampu beribadah dengan maksimal, dan masih diberi
hembusan napas oleh-Nya sampai penghujungnya.
Bahkan ketika
Ramadhan usai, hadir pula kekhawatiran yang berbeda, takut tidak lagi diberi
kesempatan untuk bertemu dengannya di tahun berikutnya. Sepanjang tahun, tidak
seperti para salafush shalih yang “hanya” berdoa selama enam bulan, saya terus
memanjatkan doa yang sama: agar dipertemukan kembali dengan bulan yang mulia
itu pada tahun yang akan datang.
Ramadhan…
Kedatangannya dirindukan, kepergiannya ditangisi.
Saya pernah berada di
fase itu.
Dan kini, saya merindukan fase tersebut kembali.
Sebab saat ini,
Ramadhan terasa seperti berlalu begitu saja. Memang ada target-target ibadah
yang dibuat, namun rasanya sangat berbeda…
Ah, saya benar-benar
merindukan masa-masa itu, masa ketika hati begitu hidup dalam menyambut dan
melepas Ramadhan.
اَللَّهُمَّ سَلِّمْنِي إِلَى رَمَضَانَ
وَسَلِّمْ لِي رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلًا
“Ya Allah,
antarkanlah aku hingga sampai kepada Ramadhan,
antarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan.”

Tidak ada komentar