Dunia Tetap Berjalan Tanpa Kita
Terkadang kita merasa penting. Ketika nama kita tidak disebut, kita pun merasa tidak enak hati. Hal itu juga pernah saya rasakan. Saya hadir sebagai tamu undangan dalam suatu acara, tetapi nama saya tidak disebut. Saat datang, saya juga tidak disambut dan tidak ditempatkan di tempat khusus. Padahal, di kesempatan lain saya pernah hadir sebagai peserta biasa, tetapi justru nama saya disebut.
Jika kita renungkan, dunia ini memang tetap akan berjalan dengan atau tanpa kita. Saya pernah menjadi pengurus di beberapa organisasi. Sebelum saya menjadi pengurus, organisasi tersebut sudah ada dan berjalan dengan pengurus sebelumnya. Setelah saya tidak lagi berada di dalamnya, pasti akan ada orang lain yang menggantikan posisi tersebut. Artinya, organisasi tetap berjalan dengan atau tanpa saya.
Karena itu, janganlah kita merasa sombong dengan posisi yang kita miliki saat ini. Suatu hari nanti, kita juga bisa dilupakan begitu saja dan dianggap tidak berarti. Saya teringat seorang ustaz yang sangat rendah hati. Ketika pertama kali saya mengundangnya, karena belum pernah bertemu sebelumnya, saya bertanya, “Ustaz XXX, ya?” Beliau menjawab, “Bukan.” Saat saya persilakan duduk di depan, beliau berkata, “Saya hanya jamaah, duduk di sini saja,” sambil membaur di tengah jamaah. Barulah ketika MC memanggil namanya, beliau maju dan naik ke mimbar.
Pengalaman tersebut mengingatkan bahwa sejatinya kita bukan pusat dari segala sesuatu; dunia tetap berjalan dengan atau tanpa kehadiran kita. Rasa ingin diakui sering kali muncul, tetapi yang lebih penting adalah menjaga kerendahan hati dan keikhlasan dalam setiap peran yang kita jalani. Posisi, jabatan, atau penghargaan hanyalah sementara, sedangkan sikap rendah hati akan meninggalkan makna yang lebih dalam serta menghadirkan ketenangan bagi diri kita.

Tidak ada komentar