Header Ads

Header ADS

Kartini dan Literasi yang Terlupakan


Setiap tanggal 21 April, semangat memperingati Hari Kartini selalu hadir di berbagai instansi, termasuk di sekolah-sekolah. Namun, ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan bersama: apakah cara kita memperingatinya sudah sejalan dengan perjuangan Kartini itu sendiri?

Yang patut kita sadari adalah bahwa nama Kartini abadi hingga hari ini karena ia menulis. Ia melahirkan gagasan, menuangkan kegelisahan, dan memperjuangkan perubahan melalui tulisan. Ia dikenal melalui kumpulan surat-suratnya yang kemudian diterbitkan dalam buku berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. Inilah warisan terbesarnya, bukan sekadar sosok atau simbol, melainkan pemikiran yang hidup dan terus relevan hingga hari ini.

Sayangnya, peringatan Hari Kartini yang selama ini kita kenal di negeri ini kerap direduksi menjadi sekadar seremoni mengenakan pakaian adat, kebaya, batik, atau sanggul. Jika hanya berhenti di situ, kita justru mengerdilkan makna perjuangan Kartini. Bahkan, dapat dikatakan kita “mengkebiri” esensi perjuangannya, yang sejatinya bertumpu pada literasi, pemikiran, dan keberanian menyuarakan ide.

Maka, sudah saatnya peringatan Hari Kartini diarahkan pada hal yang lebih substansial. Literasi harus menjadi ruh utama. Membaca sebagai langkah awal, tetapi tidak cukup. Kegiatan tersebut harus dilanjutkan dengan menuliskan gagasan, menyampaikan pandangan, dan merumuskan masa depan. Inilah bentuk penghormatan yang lebih nyata terhadap perjuangan seorang Kartini.

Bayangkan jika setiap siswa, guru, atau masyarakat pada umumnya menulis satu saja gagasan besar mereka pada Hari Kartini, tentang pendidikan, perempuan, atau masa depan bangsa. Hal itu tentu akan jauh lebih bermakna daripada sekadar lomba fashion show atau postingan foto narsis berpakaian adat di media sosial.

Media sosial pun dapat menjadi ruang perjuangan baru. Bukan semata untuk memajang foto, tetapi untuk menampilkan tulisan terbaik atau membagikan pemikiran. Bahkan bisa dengan sekadar menulis pesan reflektif tentang perjuangan perempuan di grup WhatsApp. Kecil memang, tetapi semoga berdampak seperti halnya tulisan Kartini.

Bagi para guru, inilah momentum untuk meluruskan arah. Jangan biarkan budaya simbolik ini terus dipelihara tanpa makna. Jadilah penggerak perubahan dari sekolah. Ajak siswa membaca, menulis, dan berpikir kritis. Tunjukkan bahwa kita adalah pewaris sejati Kartini, bukan hanya dalam penampilan, tetapi juga dalam pemikiran dan tindakan.

Akhirnya, memperingati Hari Kartini seharusnya bukan tentang apa yang kita kenakan, melainkan tentang apa yang kita pikirkan dan kita tuliskan. Sehingga dengannya perubahan terjadi di masa yang akan datang. Semoga!

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh duncan1890. Diberdayakan oleh Blogger.