Buku Panduan Parenting Islami Masa Kini: Jangan Jadi Orang Tua Durhaka
![]() |
| Buku "Jangan Jadi Orang Tua Durhaka" karya Ahmad Rifa’i Rif’an, sebuah panduan parenting Islami untuk membangun komunikasi positif dalam keluarga muslim masa kini. (Sumber Foto: Google) |
Sering
kali kita mendengar istilah anak durhaka yang dialamatkan pada buah hati saat
mereka tidak sejalan dengan kemauan keluarga, namun jarang sekali kita merenung
bahwa fenomena tersebut bisa jadi berawal dari perilaku orang tua itu sendiri.
Kedurhakaan anak sering kali dimulai dari orang tua durhaka yang lalai dalam
memberikan hak-hak buah hatinya, sehingga penting bagi kita untuk memahami
batasan dan tanggung jawab dalam parenting yang tepat.
Buku
berjudul “JANGAN JADI ORANG TUA DURHAKA: Panduan Parenting Islami untuk
Keluarga Muslim Masa Kini” karya Ahmad Rifa’i Rif’an hadir sebagai jawaban yang
akan membedah bagaimana pendidikan anak seharusnya dijalankan agar keharmonisan
dalam keluarga tetap terjaga.
Memahami
Parenting Islami Melalui Empat Pilar Utama
Buku
setebal 224 halaman yang diterbitkan oleh Rene Islam pada cetakan pertama
Januari 2024 ini secara sistematis membagi pembahasannya ke dalam empat bagian
besar yang penting untuk dipahami oleh setiap ayah dan ibu. Penulis mengawali
diskusinya dengan pertanyaan mengenai kesiapan seseorang menjadi orang tua,
kemudian masuk ke pembahasan mengenai cara menghindari sikap orang tua durhaka.
Bagian selanjutnya berfokus pada penerapan pola asuh Islami serta diakhiri
dengan strategi membangun pola komunikasi yang efektif dengan anak. Melalui
pembagian ini, pembaca dituntun untuk mengevaluasi diri sebelum menuntut
perubahan pada sikap anak mereka.
Kedalaman
Materi dengan Pendekatan yang Mengalir
Salah
satu keunggulan utama dari karya Ahmad Rifa’i Rif’an ini adalah gaya bahasanya
yang sangat mengalir, sepertinya ini mencerminkan jam terbang penulis yang
telah menerbitkan ratusan karya best seller. Ia tidak hanya menyajikan teor,
tetapi memadukan dalil ayat Al-Qur'an dan hadis dengan kisah keteladanan para
nabi yang relevan dengan dinamika zaman. Selain itu, buku ini kaya akan rekaman
pengalaman nyata serta teori dari tokoh modern yang diperkuat dengan penekanan
pada bagian-bagian penting melalui format visual yang mencolok dari segi ukuran
maupun warna huruf. Hal ini memudahkan pembaca dalam menyerap poin-poin inti
tentang pendidikan anak tanpa merasa digurui.
Implementasi
Praktis dalam Komunikasi Sehari-hari
Aspek
menarik lainnya yang membuat buku ini sangat aplikatif di antaranya adalah
adanya contoh-contoh kalimat praktis dalam berkomunikasi. Penulis memberikan
perbandingan antara kalimat yang tidak direkomendasikan dengan kalimat yang
lebih membangun bagi mental anak. Sebagai contoh, daripada melabeli anak dengan
kalimat negatif seperti menyatakan mereka selalu membuat kesalahan, penulis
menyarankan penggunaan kalimat yang lebih edukatif agar anak belajar dari
kekeliruan tersebut untuk mencoba lebih baik di lain waktu. Pendekatan ini tentu
akan sangat membantu dalam memperbaiki kualitas interaksi harian antara orang
tua dan anak dalam lingkup parenting yang sehat.
Catatan
Kecil Tentang Tampilan Buku
Meskipun
isinya menurut saya sangat bermanfaat, buku ini memiliki sedikit catatan pada
aspek tata letak dan pemilihan warna font. Penggunaan warna kuning terang pada
beberapa bagian, terutama pada teks Arab, terasa kurang nyaman saat dipadukan
dengan kertas putih yang bersih. Hal ini cukup mengganggu keterbacaan bagi
sebagian pembaca yang sensitif terhadap kontras warna yang terlalu mencolok. Meski
demikian, kekurangan teknis ini tidak mengurangi substansi pesan berharga yang
ingin disampaikan oleh penulis mengenai pentingnya menjaga adab dalam mendidik
generasi penerus.
Belajar
Tiada Henti Demi Masa Depan Generasi
Sebagai orang tua, selayaknya kita selalu menanamkan prinsip untuk terus belajar karena dalam urusan mendidik buah hati, tidak ada kata terlambat. Buku ini merupakan referensi yang sangat tepat bagi siapa pun yang ingin memperbaiki diri dalam proses pendidikan anak. Bahkan jika merasa sudah terlambat belajar sebagai ayah atau ibu karena anak-anak sudah beranjak dewasa, buku ini tetap relevan untuk dibaca sebagai bekal menjadi kakek atau nenek yang bijaksana. Mari mendalami lebih jauh isi buku ini agar kita tidak tergolong sebagai orang tua durhaka dan mampu mencetak generasi yang mulia.

Tidak ada komentar