Halalbihalal: Cuma Formalitas?
![]() |
| Bukan sekadar formalitas, halalbihalal menjadi momentum krusial untuk merajut kembali tali persaudaraan yang sempat renggang dan memperkuat semangat kolektif organisasi. (Foto: Ilustrasi AI) |
Belakangan ini, muncul suara miring yang ditujukan kepada pimpinan persyarikatan. Ada yang menyebut bahwa halalbihalal hanyalah formalitas yang justru merugikan karena membuat sekolah harus diliburkan. Pandangan seperti ini tentu layak untuk diluruskan melalui beberapa penjelasan berikut.
Mengenai waktu pelaksanaan, perlu dipahami bahwa jadwal halalbihalal tidak bisa ditentukan secara sepihak. Ketersediaan waktu dari pembicara atau tokoh yang diundang sering kali menjadi pertimbangan utama. Oleh karena itu, wajar apabila tanggal pelaksanaannya tidak selalu terasa "menyenangkan" bagi semua pihak.
Menganggap halalbihalal sekadar formalitas juga merupakan sebuah kekeliruan besar. Momen ini justru menjadi ruang penting untuk menyambung silaturahmi sekaligus melakukan konsolidasi organisasi. Jadi, ini bukan sekadar basa-basi tanpa arti. Terkait kekhawatiran siswa yang terpaksa libur, hal tersebut tidak terjadi berulang kali, melainkan hanya sehari dalam setahun. Cuma sekali saja.
Lebih dari itu, halalbihalal adalah warisan budaya Nusantara yang unik dan tidak ditemukan di negara lain. Dalam praktiknya, kita bisa melihat betapa cerianya para guru karena banyaknya doorprize yang disediakan. Menghapus tradisi ini sama saja dengan mengurangi kebahagiaan mereka.
Manfaat lain yang tidak kalah penting terlihat pada momen halalbihalal akbar, misalnya di tingkat kabupaten, di mana terdapat stan UMKM. Kehadiran stan tersebut menjadi penggerak ekonomi bagi para pelaku usaha warga Muhammadiyah. Di sisi lain, prospek kemitraan usaha juga terbuka lebar bagi para pelaku UMKM tersebut.
Singkatnya, halalbihalal bukanlah acara seremonial kosong. Benar bahwa ini adalah acara formal, tetapi bukan sekadar formalitas. Ia adalah ruang untuk merajut kembali yang sempat renggang, memperkuat yang telah terjalin, dan membangun semangat kolektif pasca-Ramadan. Meskipun hanya sekali setahun, semoga dampaknya tetap terasa sepanjang waktu.

Tidak ada komentar