5 Pelajaran Berharga dari Hijrah Nabi ﷺ
Ahmas Nasri
Hari
ini, mari kita kembali mengambil pelajaran dari salah satu peristiwa besar
dalam sejarah Islam, yaitu hijrahnya Nabi Muhammad ﷺ dari Makkah ke Madinah.
Peristiwa hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi merupakan perjalanan
penuh pengorbanan, perjuangan, dan keteguhan iman. Dari hijrah Rasulullah ﷺ, kita dapat mengambil banyak
hikmah yang masih relevan untuk kehidupan kita saat ini, terutama tentang niat
dalam beramal, tawakal, ikhtiar, pengorbanan, persaudaraan, dan semangat untuk
berubah menjadi lebih baik.
1. Niat karena Allah ﷻ
Niat
adalah penentu nilai setiap amal yang kita lalukan. Dua orang bisa melakukan
hal yang sama, misalnya, shalat berjamaah atau bersedekah, tapi nilai di sisi
Allah ﷻ bisa jauh berbeda,
hanya karena niatnya beda.
Dari
‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah
ﷺ bersabda,
إِنَّمَا
الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ
كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ
وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ
يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan
mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan
Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya
karena mencari dunia atau karena perempuan yang dinikahinya, maka hijrahnya
kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Artinya,
jika amal seseorang tidak diniatkan untuk akhirat, melainkan hanya untuk urusan
dunia, maka sebesar apa pun amal tersebut, apabila tidak dilakukan karena
Allah, tidak akan bernilai di akhirat.
2. Tawakal Kepada Allah ﷻ
Saat
Nabi ﷺ dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu bersembunyi di Gua
Tsur, pasukan Quraisy hampir menemukannya. Dikisahkan dari Anas bin Malik radhiyallahu
‘anhu, bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berkata,
قُلْتُ
لِلنَّبِيِّ ﷺ وَأَنَا فِي الْغَارِ: لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ نَظَرَ تَحْتَ
قَدَمَيْهِ لَأَبْصَرَنَا. فَقَالَ: «مَا ظَنُّكَ يَا أَبَا بَكْرٍ بِاثْنَيْنِ
اللَّهُ ثَالِثُهُمَا؟»
“Saya berkata kepada Nabi ﷺ ketika saya
dalam gua, ‘sekiranya salah seorang di antara mereka melihat ke bawah kedua
kakinya, maka kita akan kelihatan’.” Rasulullah menjawab, “Bagaimana menurutmu,
wahai Abu Bakar terhadap dua orang yang ketiganya adalah Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam
hidup ini, ada saatnya kita hanya bisa bertawakal. Usaha tetap wajib, tapi
jangan lupakan keyakinan penuh pada pertolongan Allah ﷻ.
3. Ikhtiar Maksimal
Hijrah
bukan sekadar berpindah tempat, tetapi membutuhkan perencanaan yang matang dan
ikhtiar yang maksimal. Nabi ﷺ tidak hanya berdoa dan bertawakal kepada Allah ﷻ, tetapi juga menyusun
strategi yang sangat rapi. Beliau memilih unta terbaik untuk perjalanan. Ketika
bersembunyi di Gua Tsur, Asma' binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha yang
dikenal sebagai Dzatun Nithaqain (perempuan yang mempunyai dua ikat
pinggang) mengantarkan makanan, Abdullah bin Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu
menyampaikan informasi dari Makkah, sedangkan Amir bin Fuhairah radhiyallahu
‘anhu menggembalakan kambing untuk menghapus jejak perjalanan. Setelah
keadaan aman, Nabi ﷺ menggunakan jasa penunjuk jalan yang terpercaya dan menempuh
jalur yang jarang dilalui orang menuju Madinah.
Dari
peristiwa ini kita belajar bahwa tawakal tidak berarti meninggalkan usaha.
Seorang muslim diperintahkan untuk berikhtiar sebaik mungkin, mempersiapkan
segala sesuatu dengan sungguh-sungguh, kemudian menyerahkan hasilnya kepada
Allah ﷻ.
4. Hijrah Membutuhkan Pengorbanan
Hijrah itu tidak mudah. Nabi ﷺ dan
para sahabat radhiyallahu ‘anhum meninggalkan rumah, keluarga, kampung
halaman, harta, bahkan sahabat-sahabat yang dicintai.
Salah satu contoh pengorbanan dalam hijrah ke Madinah adalah kisah
Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu. Ketika berhijrah, beliau
meninggalkan harta dan kekayaan yang dimilikinya di Makkah demi mempertahankan
keimanan. Sesampainya di Madinah, beliau yang datang dalam keadaan tidak
membawa harta dipersaudarakan oleh Rasulullah ﷺ dengan Sa’ad bin Ar-Rabi’ radhiyallahu ‘anhu. Sa’ad
menawarkan sebagian hartanya, bahkan salah satu istrinya. Namun, Abdurrahman
bin Auf radhiyallahu ‘anhu memilih untuk menjawab, “Semoga Allah
memberkahi keluargamu dan hartamu. Akan tetapi, tunjukkanlah kepadaku letak
pasar.”
Beliau kemudian berusaha berdagang hingga Allah ﷻ memberikan keberkahan pada usahanya. Kisah ini menunjukkan
bahwa hijrah membutuhkan pengorbanan, kemandirian, dan ikhtiar maksimal untuk
membangun kehidupan yang lebih baik.
Allah ﷻ berfirman:
وَالَّذِيْنَ
هَاجَرُوْا فِى اللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ مَا ظُلِمُوْا
لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً ۗوَلَاَجْرُ الْاٰخِرَةِ اَكْبَرُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَۙ
“Orang
yang berhijrah karena Allah setelah mereka dizalimi, pasti Kami akan memberikan
tempat yang baik kepada mereka di dunia. Pahala di akhirat pasti lebih besar,
sekiranya mereka mengetahui.” (QS. An Nahl [16]: 41)
Untuk
berubah menjadi lebih baik, pasti ada pengorbanan. Namun, yakinlah bahwa Allah ﷻ pasti akan menggantinya dengan
sesuatu yang lebih baik, baik di dunia maupun di akhirat.
5. Persaudaraan dan Solidaritas
Di Madinah, kaum Muhajirin (pendatang dari Makkah) disambut dengan
tangan terbuka oleh kaum Ansar (penduduk Madinah). Mereka berbagi rumah, harta,
bahkan membantu mencarikan pekerjaan bagi saudara-saudara mereka yang datang
berhijrah.
Allah ﷻ berfirman:
اِنَّمَا
الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ
“Sesungguhnya
orang-orang mukmin itu bersaudara.”
(QS. Al-Hujurat [49]: 10)
Allah
ﷻ juga berfirman:
وَالَّذِيْنَ
تَبَوَّءُو الدَّارَ وَالْاِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ
اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ اُوْتُوْا
وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗوَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ
“Orang-orang
(Ansar) yang telah menempati kota (Madinah) dan beriman sebelum (kedatangan)
mereka (Muhajirin) mencintai orang yang berhijrah ke (tempat) mereka. Mereka
tidak mendapatkan keinginan di dalam hatinya terhadap apa yang diberikan
(kepada Muhajirin). Mereka mengutamakan (Muhajirin) daripada dirinya sendiri
meskipun mempunyai keperluan yang mendesak. Siapa yang dijaga dirinya dari
kekikiran itulah orang-orang yang beruntung.” (QS.
Al-Hasyr [59]: 9)
Inilah
yang disebut itsar, yaitu sikap mendahulukan kepentingan orang lain di
atas kepentingan pribadi. Sikap ini merupakan derajat tertinggi dalam prinsip
persaudaraan dan kepedulian. Kaum Ansar telah membantu kaum Muhajirin dengan
memberikan apa yang mereka miliki, bahkan ketika mereka sendiri membutuhkannya.
Hal ini menjadi bukti nyata atas ketulusan cinta dan kuatnya keimanan mereka
kepada Allah ﷻ.
Hijrah adalah
Awal, Bukan Akhir
Hijrah bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal untuk
membangun kehidupan yang lebih baik. Setelah sampai di Madinah, Rasulullah ﷺ dan para
sahabat tidak berhenti berjuang, tetapi mulai menata kehidupan baru dengan
membangun masjid, memperkuat persaudaraan, menyusun masyarakat yang
berlandaskan iman, dan terus berdakwah. Setiap
hijrah membutuhkan proses, perjuangan, dan keteguhan agar perubahan yang
dilakukan membawa keberkahan dan mendekatkan diri kepada Allah ﷻ.
رَبَّنَا لَا
تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً
ۚاِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ
(Mereka
berdoa,) “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami berpaling
setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami dan anugerahkanlah kepada kami
rahmat dari hadirat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali Imran [3]: 8)
Mulailah Hijrah dari Hal Kecil
Hijrah tidak selalu harus dimulai dengan perubahan besar, tetapi dapat
dimulai dari hal yang paling kecil, dari diri sendiri, dan dimulai dari
sekarang.
Hijrah tidak harus selalu sesuatu yang besar. Terkadang hijrah itu berupa
langkah-langkah sederhana, seperti:
- Shalat tepat waktu, padahal sebelumnya sering
menunda-nunda.
- Menjaga lisan dan meninggalkan ghibah, padahal
sudah menjadi kebiasaan.
- Membaca Al-Qur’an minimal satu halaman setiap
hari, meskipun di tengah kesibukan.
- Menahan amarah dan membiasakan diri untuk meminta
maaf.
- Mulai bersedekah dan mengurangi kebiasaan
menghabiskan harta untuk hal yang kurang bermanfaat.
- Menghadiri majelis ilmu, tidak hanya menghabiskan
waktu untuk berkumpul tanpa tujuan.
Intinya, memperbaiki amal shaleh dan meninggalkan keburukan adalah
langkah-langkah sederhana yang bernilai besar di sisi Allah ﷻ apabila dilakukan dengan ikhlas dan istiqamah.
وَالْمُهَاجِرُ
مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang Allah
larang.” (HR. Bukhari)
Sebagaimana perjalanan hijrah Rasulullah ﷺ yang penuh pengorbanan, setiap perubahan membutuhkan niat yang tulus, kesabaran, dan ikhtiar. Jangan menunggu sempurna untuk berubah, karena hijrah adalah proses panjang menuju kehidupan yang lebih baik dan semakin dekat kepada Allah ﷻ. Wallahul Musta’an.
Tidak ada komentar