Header Ads

Header ADS

Mukmin SUCI 12 dan Salafi-Jihadi Garis Lucu


Ahmas Nasri

 

Jika sebelumnya kita mengenal Muhammadiyah garis lucu dan NU garis lucu, maka kali ini kita akan membicarakan Salafi-Jihadi garis lucu. Varian yang akan kita bahas ini ada pada diri Chairul Mukmin, S.Pd., M.H., komika yang baru saja dinobatkan sebagai juara dalam kompetisi Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) KompasTV yang kali ini telah memasuki musim ke-12.

Mungkin ada yang akan mendebat, "Mukmin itu Muhammadiyah, dia lulusan FAI UMY." Baik, kita bahas dulu. Benar bahwa Mukmin adalah alumni UMY. Sebagaimana dibahas dalam podcast bersama Komika Abdur Arsyad, yang memasukkannya ke pesantren adalah pamannya yang juga merupakan orang Muhammadiyah.

Namun yang unik, dia juga merupakan alumni angkatan ke-12 Pondok Pesantren Islam Darusy Syahadah, Simo, Boyolali, pesantren yang dulunya sering distigmakan sebagai pencetak jihadis setelah lebih dahulu kita mengenal Pesantren Ngruki. Pesantren yang pimpinannya merupakan mantan anggota Jamaah Islamiyah. Bisa dicek, pimpinan Pondok Pesantren Darusy Syahadah adalah Al-Ustadz Dr. KH. Mustaqim Safar. Dulu beliau pernah diberitakan dalam deklarasi pembubaran JI (Jamaah Islamiyah) dan kembali ke pangkuan NKRI.

Penyebutan latar belakang ini penting karena selama ini ada stigma bahwa orang yang bermanhaj jihadis cenderung kaku dalam berdakwah, serius, dan jauh dari humor. Bahkan sebagian dari kita mungkin pernah mendengar pandangan bahwa berbohong demi memancing tawa termasuk dosa. Pandangan ini tidak mengada-ada karena memang merujuk pada sabda Rasulullah saw, “Celakalah bagi yang berbicara lantas berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Karena itu, kemunculan Mukmin di panggung stand up comedy menjadi sesuatu yang menarik. Ia seakan menjawab bahwa humor dan dakwah tidak harus saling bertentangan. Saya sendiri memandang apa yang dilakukan Mukmin ini sebagai semacam babak baru dalam dunia dakwah. Dakwah tidak melulu hadir di mimbar-mimbar masjid, majelis taklim, atau forum kajian, tetapi juga bisa hadir di panggung stand up comedy.

Yang menarik, materi yang dibawakan Mukmin sebenarnya berangkat dari keresahan yang banyak dirasakan masyarakat, terutama dalam melihat dunia pendidikan di negeri ini. Tawa yang muncul dari para penonton pun bisa jadi sebenarnya bukan semata-mata karena kelucuan materinya, melainkan juga karena mereka merasa dekat dengan realitas yang sedang dikritik. Dalam konteks ini, humor menjadi sarana efektif untuk menyampaikan kritik sosial dengan cara yang lebih mudah diterima.

Ada hal unik lain dari Mukmin. Dalam banyak pertunjukan stand up comedy, kita sering mendengar makian, cacian, umpatan, atau kata-kata vulgar yang pada beberapa momen bahkan harus dipotong dan disensor. Sebaliknya, dalam penampilan Mukmin justru sering muncul kalimat-kalimat thayyibah, istighfar, dan ungkapan-ungkapan yang akrab dengan tradisi dakwah. Jika banyak bagian materi Mukmin yang disensor, itu bukan karena kata-kata kotor, melainkan karena ada kritik atau kejujuran yang dianggap sensitif. Di titik inilah stand up comedy yang dibawakan Mukmin dapat dipandang sebagai panggung dakwah dalam bentuk yang berbeda.

Pengalaman saya mengenal beberapa ustadz dan alumni Darusy Syahadah juga membuat fenomena ini terasa menarik. Kebanyakan yang saya kenal cenderung serius dalam penyampaian dakwahnya. Meski demikian, kita juga mengenal Ustadz Oemar Mita, dai nasional yang sering menyelipkan humor-humor segar dalam ceramahnya. Di Solo Raya, ada pula Ustadz Abdurrahman Syahid, alumni Darusy Syahadah yang dikenal humoris. Namun, konteks keduanya kan tetap berada di panggung dakwah. Sementara itu, Mukmin mengambil jalur yang berbeda. Jika para dai membawa humor ke panggung dakwah, maka Mukmin justru membawa dakwah ke panggung komedi.

Fenomena ini mengingatkan saya pada perjalanan Ustadz Felix Siauw. Dulu ia sering dilekatkan dengan label penceramah garis keras atau radikal. Namun belakangan, lingkaran pergaulannya juga banyak bersinggungan dengan para komika dan kreator konten. Apakah itu berarti dakwahnya luntur? Saya justru melihatnya sebagai proses dakwah yang semakin membumi. Pesan yang sama disampaikan dengan media yang sama sekali berbeda, menjangkau audiens yang mungkin tidak akan datang ke majelis taklim, tetapi bersedia mendengarkan ketika pesan itu dibungkus dengan humor, percakapan santai, dan budaya populer.

Karena itu, kemenangan Chairul Mukmin di SUCI 12 menarik untuk dicermati, bukan hanya sebagai prestasi seorang komika, tetapi juga sebagai penanda bahwa dakwah hari ini menemukan banyak ruang baru untuk bertumbuh. Bukan semata-mata menguasai mimbar, melainkan juga di panggung hiburan, media sosial, dan berbagai ruang publik yang selama ini mungkin tidak pernah dibayangkan sebagai arena dakwah.

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh duncan1890. Diberdayakan oleh Blogger.