Perjalanan Hati tentang Buah Hati
Dulu, salah satu keadaan hati yang mungkin
bisa dikatakan sebagai titik terendah dalam hidup saya adalah ketika sudah lama
menikah, tetapi belum juga dikaruniai momongan. Saat itu, entah mengapa, setiap
malam menjelang tidur saya sering melamun hingga menghitung orang-orang yang
sudah memiliki anak, padahal mereka menikah lebih belakangan daripada saya dan
istri. Mungkin jumlahnya sudah lebih dari 40 orang, belum sampai 50 bayi yang
sempat saya hitung, sudah berhenti.
Sekarang, jika mengingatnya, saya menyadari
bahwa itu adalah cerminan hati yang sedang dipenuhi suatu rasa, apa ya namanya?
Mungkin iri kepada mereka, dan tentu juga rasa berharap yang sangat kepada
Allah. Alhamdulillah, setelah penantian selama delapan tahun, Allah akhirnya
mengaruniakan amanah itu kepada kami. Kini kami telah memiliki dua anak. Yang
pertama sudah belajar di kelas 2 SD, sedangkan yang kedua masih bermain bersama
teman-temannya di TK.
Kini, kondisi hati saya justru berbalik. Jika
dahulu saya menghitung orang-orang yang lebih dahulu memiliki anak daripada
kami, beberapa waktu terakhir, mungkin baru sekitar setahunan ini, saya lebih
sering menyebut nama dan mendoakan mereka yang sudah lama menikah, tetapi belum
juga dikaruniai momongan. Bisa jadi mereka berasal dari kalangan kerabat,
sahabat, teman, ataupun orang lain yang saya kenal. Mungkin ada sekitar
sepuluhan pasangan yang secara khusus saya ingat dan saya sebut namanya dalam
doa kepada Allah. Saya memohon kepada Allah agar memberikan keturunan yang
shaleh dan shalehah kepada mereka, sebagaimana dahulu Allah telah mengabulkan
doa-doa kami, tentu pada waktu dan keadaan yang terbaik menurut-Nya.
Rasulullah SAW pernah bersabda,
دَعْÙˆَØ©ُ الْÙ…َرْØ¡ِ الْÙ…ُسْÙ„ِÙ…ِ لأَØ®ِيهِ
بِظَÙ‡ْرِ الْغَÙŠْبِ Ù…ُسْتَجَابَØ©ٌ عِÙ†ْدَ رَØ£ْسِÙ‡ِ Ù…َÙ„َÙƒٌ Ù…ُÙˆَÙƒَّÙ„ٌ ÙƒُÙ„َّÙ…َا
دَعَا لأَØ®ِيهِ بِØ®َÙŠْرٍ Ù‚َالَ الْÙ…َÙ„َÙƒُ الْÙ…ُÙˆَÙƒَّÙ„ُ بِÙ‡ِ آمِينَ ÙˆَÙ„َÙƒَ
بِÙ…ِØ«ْÙ„ٍ
“Sesungguhnya doa seorang muslim untuk saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab
(terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat
yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan
kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan
semisal dengan saudaramu tadi.” (HR. Muslim)
Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa Allah
benar-benar telah membolak-balikkan keadaan hati seorang hamba. Dulu, hati saya
sibuk menghitung siapa yang sudah mendapatkan nikmat yang belum kami miliki.
Kini, Allah membaliknya menjadi hati yang lebih senang. Nikmat sekali rasanya
hati ini mendoakan mereka agar juga merasakan kebahagiaan yang dahulu pernah
kami nantikan. Semoga Allah menjaga hati ini agar tetap bersyukur atas nikmat
yang telah diberikan, tidak melupakan masa-masa sulit yang pernah dilalui, dan
terus menjadi sebab terkabulnya doa-doa bagi saudara-saudara kami yang masih
menanti hadirnya buah hati.
Karena ternyata, semakin dewasa, isi hidup kita ini dipenuhi dengan doa: berdoa, mendoakan, dan didoakan. Sebab, kita tidak pernah tahu doa mana yang akan lebih dahulu dikabulkan.
Tidak ada komentar