Header Ads

Header ADS

Dakwah bil Qalam di Era Digital: Saatnya Menjadi Penulis Dakwah Muhammadiyah


Perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat mencari ilmu agama. Jika dahulu seseorang harus datang ke masjid, menghadiri pengajian, membaca buku, atau mendengarkan radio, kini jutaan orang cukup membuka Google, mengunjungi website, menonton YouTube, atau membaca media sosial untuk mendapatkan jawaban atas berbagai persoalan keislaman. Perubahan ini menghadirkan tantangan sekaligus peluang besar bagi dakwah Islam.

Karena itu, dakwah tidak cukup hanya dilakukan dari mimbar ke mimbar. Dakwah juga harus hadir di ruang digital melalui tulisan yang benar, mudah dipahami, dan dapat diakses kapan saja. Inilah yang dikenal sebagai dakwah bil qalam, yaitu menyampaikan ajaran Islam melalui tulisan.

Bagi Muhammadiyah, kehadiran di dunia digital bukan sekadar mengikuti perkembangan zaman. Website Muhammadiyah kultural maupun struktural di berbagai tingkatan pimpinan menjadi sarana menghadirkan dakwah yang berlandaskan Al-Qur'an, As-Sunnah, serta Manhaj Tarjih kepada masyarakat luas. Setiap artikel yang dibaca, dipahami, kemudian diamalkan oleh orang lain dapat menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.

Rasulullah bersabda:

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ

"Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." (HR. Muslim)

Hadis ini menjadi motivasi bagi setiap penulis dakwah. Tulisan yang bermanfaat dapat terus dibaca selama bertahun-tahun, bahkan setelah penulisnya telah tiada.

 

Website Dakwah Bukan Sekadar Media Berita

Masih banyak yang menganggap website organisasi hanya berfungsi untuk memuat berita kegiatan, seperti pengajian, musyawarah, pelantikan, rapat koordinasi, atau agenda lainnya. Padahal fungsi website dakwah jauh lebih luas daripada itu.

Website Muhammadiyah seharusnya dipenuhi dengan konten yang memberi manfaat bagi umat, seperti artikel kajian Islam, tanya jawab agama, khutbah dan kultum, materi kemuhammadiyahan, opini keislaman, kisah tokoh, hingga berbagai tulisan edukatif lainnya. Dengan demikian, website menjadi pusat literasi Islam yang dapat diakses oleh siapa saja.

 

Setiap Orang Sebenarnya Sudah Memiliki Bahan Tulisan

Banyak orang merasa belum mampu menulis artikel dakwah karena menganggap harus memiliki ilmu yang sangat tinggi. Padahal, bahan tulisan sebenarnya tersedia di sekitar kita.

Setiap selesai mengikuti pengajian, membaca buku, mengikuti pelatihan, atau menjawab pertanyaan jamaah, kita sesungguhnya telah memiliki bahan untuk sebuah artikel. Yang diperlukan hanyalah kemampuan menyusun gagasan tersebut menjadi tulisan yang runtut dan mudah dipahami.

Menulis bukan berarti menciptakan ilmu baru, tetapi menyampaikan ilmu yang benar agar semakin banyak orang memperoleh manfaat.

 

Prinsip Dasar Menulis Artikel Dakwah

Artikel yang baik selalu memiliki fokus yang jelas. Jangan mencoba membahas terlalu banyak persoalan dalam satu tulisan. Misalnya, daripada membuat artikel berjudul "Hukum Puasa, Zakat, Haji, dan Sedekah", jauh lebih efektif jika membahas satu tema yang spesifik seperti "Lima Kesalahan Saat Berpuasa".

Satu artikel sebaiknya hanya memiliki satu pokok masalah dan satu tujuan utama. Dengan demikian pembaca lebih mudah memahami isi tulisan dan memperoleh manfaat yang jelas.

Selain menentukan fokus, penulis juga perlu mengenali siapa pembacanya. Apakah artikel ditujukan untuk masyarakat umum, pemuda, pelajar, atau orang tua? Pemahaman terhadap target pembaca akan menentukan pilihan bahasa, contoh, dan gaya penyampaian.

 

Gunakan Bahasa yang Ringan

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah penggunaan bahasa yang terlalu akademis. Kalimat seperti:

"Berdasarkan pendapat sebagian besar fuqaha yang telah melakukan istinbath terhadap berbagai dalil..."

akan terasa berat bagi pembaca umum.

Kalimat tersebut dapat disederhanakan menjadi:

"Mayoritas ulama berpendapat bahwa..."

Bahasa yang sederhana bukan berarti mengurangi kualitas ilmiah, tetapi justru memudahkan masyarakat memahami pesan dakwah.

 

Tulisan Dakwah Harus Berdasarkan Dalil

Artikel dakwah bukan sekadar opini pribadi. Setiap pembahasan hendaknya diperkuat dengan dalil dari Al-Qur'an, hadis yang maqbul, penjelasan para ulama, atau Fatwa Tarjih Muhammadiyah apabila tersedia.

Dalil memberikan landasan ilmiah sekaligus meningkatkan kepercayaan pembaca terhadap isi tulisan.

 

Akhiri dengan Hikmah dan Ajakan

Artikel yang baik tidak berhenti pada penyampaian informasi. Penulis perlu menutupnya dengan hikmah yang menyentuh hati serta mengajak pembaca untuk mengamalkan ilmu yang telah dibaca.

Kalimat sederhana seperti:

"Semoga Allah memudahkan kita mengamalkan sunnah Rasulullah."

atau

"Mari menjadikan ilmu sebagai jalan menuju ridha Allah."

akan memberikan kesan yang lebih mendalam dibandingkan penutup yang bersifat datar.

 

Struktur Artikel yang Mudah Dibaca

Agar nyaman dibaca di website, artikel sebaiknya memiliki struktur yang jelas, dimulai dari judul yang menarik, pembuka yang menggugah rasa ingin tahu, isi yang sistematis, dan penutup yang memberikan kesimpulan.

Gunakan paragraf-paragraf pendek, subjudul yang jelas, dan poin-poin bila diperlukan. Cara ini membuat pembaca lebih betah membaca hingga selesai, terutama ketika mengakses artikel melalui telepon genggam.

Selain itu, perhatikan pula aspek dasar SEO (Search Engine Optimization). Gunakan judul yang mengandung kata kunci, buat URL yang singkat, sertakan gambar pendukung, dan usahakan panjang artikel sekitar 600–1000 kata agar lebih mudah ditemukan melalui mesin pencari.

 

Hindari Kesalahan yang Sering Terjadi

Beberapa kesalahan yang sering ditemukan dalam artikel dakwah antara lain judul yang tidak jelas, tidak mencantumkan dalil, pembahasan yang terlalu panjang, penggunaan bahasa yang terlalu akademis, tidak memiliki kesimpulan, melakukan salin-tempel dari tulisan orang lain, serta tidak mencantumkan sumber rujukan.

Kesalahan-kesalahan tersebut dapat mengurangi kualitas tulisan sekaligus menurunkan kepercayaan pembaca.

 

Penutup

Dakwah bil qalam merupakan salah satu bentuk jihad intelektual di era digital. Melalui tulisan, ilmu dapat menjangkau ribuan bahkan jutaan orang tanpa dibatasi ruang dan waktu. Setiap kader Muhammadiyah memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari dakwah ini, karena setiap pengalaman belajar, pengajian yang diikuti, dan ilmu yang dipahami dapat diolah menjadi artikel yang bermanfaat.

Mari mulai menulis. Tidak harus panjang, tidak harus sempurna, tetapi harus benar, bermanfaat, dan ikhlas karena Allah. Semoga setiap huruf yang kita tulis menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya hingga akhir hayat. Nūn. Wal-qalami wa mā yasurūn.

 

*) Disampaikan oleh Dr. Muhammad Nasri Dini dalam materi "Teknik Menulis Dakwah untuk Website" pada kegiatan Sekolah Tabligh di Aula PDM Sukoharjo, Ahad, 12 Juli 2026.

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh duncan1890. Diberdayakan oleh Blogger.