Header Ads

Header ADS

Ironi Guru Agama Islam di Negeri Muslim


Dr. Muhammad Nasri Dini

 

Baru-baru ini berseliweran berita bahwa lebih dari 58 persen guru Pendidikan Agama Islam (PAI) tingkat SD belum fasih membaca Al-Qur’an. Hasil Asesmen Pendidikan Agama Islam (PAI) tahun 2025 mengungkap adanya masalah fundamental dalam kualitas pendidikan agama Islam di jenjang sekolah dasar. Data menunjukkan bahwa 58,26 persen guru PAI di tingkat SD/SDLB masih berada pada level dasar atau pratama dalam kemampuan membaca Al-Qur’an, yang berarti belum memiliki kefasihan yang memadai.

Paparan tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Amin Suyitno, setelah pengumuman hasil asesmen nasional di Jakarta. Penilaian ini melibatkan 160.143 guru PAI SD/SDLB dan dilaksanakan melalui aplikasi SIAGA milik Kementerian Agama.

Selain kategori pratama, sebanyak 30,4 persen guru berada pada tingkat madya, sementara hanya 11,3 persen yang tergolong mahir dalam membaca Al-Qur’an. Secara keseluruhan, rata-rata Indeks Membaca Al-Qur’an guru PAI SD/SDLB mencapai angka 57,17, dengan kelemahan utama terletak pada penguasaan kaidah tajwid.

 

Wajah Pendidikan di Nusantara

Melihat berbagai fenomena pendidikan di negeri ini, hal semacam itu sebenarnya sangat wajar. Coba kita saksikan keadaan di sekitar, kultur di kebanyakan sekolah seolah-olah anak tidak boleh tidak naik kelas dan tidak boleh tidak lulus. Artinya semua murid di kebanyakan sekolah sudah dipastikan naik kelas dan sudah dipastikan lulus.

Dalam konteks PAI, seberapa pun kemampuan mereka dalam membaca Al-Qur’an, nilai agama yang diperoleh dipastikan berada jauh di atas KKM. Kalau tidak percaya tanyakan saja pada guru-guru yang mengajar di SD.

Dengan kondisi seperti itu, mereka lulus SD, lalu SMP, lalu SMA, dengan keadaan yang relatif sama. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan mereka kemudian melanjutkan kuliah di jurusan PAI.

 

Sistem Pencetak Guru Agama Islam

Apabila diharapkan guru PAI tingkat SD memiliki penguasaan tajwid yang baik, hafalan Al-Qur’an yang kuat, bacaan bersanad, serta kemampuan bahasa Arab yang fasih, maka yang perlu dibenahi terlebih dahulu adalah sistem pendidikan dan pembinaan di lembaga pencetak guru PAI itu sendiri.

Pada kenyataannya, di kampus pun, pembelajaran Al-Qur’an pada jurusan PAI sering kali tidak mendalam. Target minimalnya sekadar hafal Juz 30, bagaimanapun kondisi bacaan dan kualitas tajwidnya. Toh mereka nantinya akan menjadi lulusan PAI, yang sifat keilmuannya sangat umum, bukan lulusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir yang spesifik berkaitan dengan Al-Qur’an.

Saya teringat masa kuliah di kampus Islam dulu, sekitar hampir dua puluh tahun lalu. Angkatan di bawah saya diadakan kegiatan mentoring keislaman, dan saya kebetulan menjadi salah satu mentor. Dari sekitar sepuluh anggota mentoring di kelompok saya, ternyata ada beberapa yang belum lancar membaca Al-Qur’an. Ada yang membaca alif lam mim saja dengan “alama”. Banyak pula di antara mereka yang pemahaman keislamannya masih sangat awam, terutama yang berlatar belakang SMA umum atau SMK. Ini baru satu kelompok, belum diakumulasi dalam satu jurusan. Bagi alumni Madrasah Aliyah atau Pondok Pesantren program ini bisa jadi menjadi kurang relevan.

Apabila kualitas lulusan benar-benar ingin ditingkatkan, maka jurusan PAI semestinya menerapkan seleksi yang lebih ketat sejak awal. Idealnya, pendaftar dibatasi pada lulusan SMA Islam, Madrasah Aliyah, atau pondok pesantren yang telah memiliki dasar keislaman yang memadai dan lancer dalam membaca Al-Qur’an. Dengan fondasi tersebut, proses perkuliahan tidak lagi disibukkan dengan penguatan materi dasar, melainkan dapat diarahkan pada pendalaman ilmu, penguatan kompetensi, dan pembentukan kualitas akademik serta spiritual calon guru agama secara lebih optimal.

Program mentoring ini bertujuan untuk membantu mahasiswa mempunyai bekal pemahaman yang baik, membantu mahasiswa dapat membaca Al Qur’an dengan baik dan benar, serta mempunyai kepribadian yang mumpuni. Program ini diperuntukkan untuk mahasiswa baru selama kurun waktu satu tahun. Materi yang disampaikan para mentor kepada mahasiswa baru yaitu tentang aqidah, akhlak, ibadah, dan hafalan Al-Qur’an.

Latar belakang diadakannya program mentoring ini memang karena adanya kesenjangan dasar keislaman di kalangan mahasiswa, meskipun ini adalah kampus Islam. Kampus menyadari bahwa tidak semua mahasiswa masuk dengan bekal yang sama, terutama dalam hal kemampuan membaca Al-Qur’an dan pemahaman dasar keislaman, sehingga diperlukan pendampingan yang lebih personal dan berkelanjutan pada tahun pertama. 

Pada periode yang hampir bersamaan, salah satu ormas Islam besar di daerah Solo Raya juga pernah mengadakan asesmen untuk guru-guru di bawah naungannya, tidak khusus guru agama Islam. Hasilnya cukup mengejutkan. Tidak hanya guru, bahkan ada sebagian kepala sekolahnya pun belum bisa membaca Al-Qur’an. Itu sudah lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Semoga saat ini sudah lebih baik.

 

Kompetensi PAI Tingkat SD

Kembali pada guru Agama Islam SD. Pertanyaannya kemudian: andaikata mereka fasih sekalipun, seberapa “berguna” kefasihan itu dalam konteks mengajar di tingkat SD? Materi PAI di jenjang ini sangat ringan. Tidak perlu terlalu fasih, yang penting guru mampu membuat murid-muridnya bisa membaca Al-Qur’an dasar dan melaksanakan shalat dengan gerakan serta bacaan yang benar, itu saja sudah sangat bagus.

Memang ada beberapa ayat Al-Qur’an yang dicantumkan, tetapi jumlahnya sangat terbatas. Materi tajwid juga disajikan, namun masih pada tingkat yang sangat dasar. Pemahaman sederhana tentang hukum nun sukun dan mim sukun saja sudah dianggap memadai. Selain itu, materi pembelajaran lebih banyak berfokus pada kisah-kisah dan pembelajaran kontekstual, bukan pada pendalaman bacaan dan makna ayat-ayat Al-Qur’an secara substansial.

Terakhir, di negeri ini kan kompetensi sering kali bukan soal utama. Menteri yang mengurusi hutan dengan latar belakang ilmu Al-Qur’an dan tugas akhir tentang konflik keagamaan saja dianggap biasa-biasa saja, kok.

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh duncan1890. Diberdayakan oleh Blogger.