Pengalaman Seleksi Dosen di Universitas Muhammadiyah Klaten (Part 1)
Alhamdulillah, setelah beberapa waktu
memasukkan lamaran ke berbagai kampus, salah satunya membuahkan panggilan,
yaitu dari Universitas Muhammadiyah Klaten (UMKLA). Pada 14 Juli 2026 lalu saya
dimasukkan ke dalam sebuah grup WhatsApp "Rekrutmen Dosen PAI UMKLA
2026". Kemudian, pada 24 Juli 2026 saya menerima undangan untuk mengikuti
seleksi.
Total ada 17 pelamar yang dipanggil dan
dibagi menjadi dua gelombang. Gelombang pertama terdiri atas 9 orang yang
dijadwalkan pada Senin, 27 Juli 2026, dan saya termasuk di dalamnya. Sementara
gelombang kedua berjumlah 8 orang dan dijadwalkan pada Senin, 3 Agustus 2026 nanti.
Dalam undangan sudah jelas tertulis bahwa acara dimulai pukul 09.00 WIB. Sebenarnya saya
sudah berangkat cukup pagi. Namun, karena saya mengendarai motor dengan lumayan
santai, saya sampai di lokasi sekitar pukul sembilan lebih seperempat mungkin.
Ternyata, saat saya datang sudah ada peserta yang sedang menjalani wawancara. Saya pun mendapat giliran paling akhir karena memang urutan kedatangan
saya juga paling terakhir.
Ada empat sesi wawancara dengan pewawancara
yang berbeda. Meskipun beberapa pertanyaan dari masing-masing pewawancara ada
pula yang saling beririsan.
Sesi pertama bersama Prof. Wisnu. Beliau
banyak bertanya tentang disertasi, rencana karier, terutama mengenai riset,
spesifikasi keilmuan, bahkan gambaran langkah saya menuju jabatan profesor di
masa depan nanti bagaimana.
Saya menjawab sebisa mungkin. Tentang
disertasi, saya menjelaskan bahwa penelitian saya berkaitan dengan pembiayaan
pendidikan. Ketika ditanya mengenai langkah menuju profesor, saya menjawab
bahwa salah satunya adalah menjalankan tridarma perguruan tinggi sebaik
mungkin, termasuk produktif dalam menulis dan menghasilkan artikel ilmiah.
Yang paling membuat saya agak gagap adalah
ketika beliau bertanya tentang spesifikasi keilmuan.
"Kalau saudara ditanya, saudara ini ahli
atau pakar dalam bidang apa, bagaimana jawaban saudara?"
Saya menjawab, "Pakar manajemen
pendidikan, Prof."
Beliau langsung mengejar, "Terlalu umum
itu. Manajemen pendidikan kan memiliki banyak cabang."
Di situ saya sempat berpikir, "Wah,
benar juga." Rupanya beliau ingin jawaban yang lebih spesifik lagi.
Beliau pun berpesan agar saya lebih bisa
memilih fokus atau spesifikasi keilmuan saya, agar jalan menuju jabatan profesor nanti juga lebih
lancar.
Selain itu, beliau juga sempat menanyakan
beberapa aktivitas saya di Muhammadiyah.
Sesi kedua wawancara seputar loyalitas, saya dihadapkan dengan Pak Rektor, Prof. Dr. Ir. Sukamta. Begitu bertemu, beliau langsung
"menembak" dengan pertanyaan berbahasa Jawa.
"Kowe wong MTA to?"
"Mboten, Prof," jawab saya.
"Lha iki kok SMA MTA?" tanya beliau
membaca riwayat pendidikan saya.
"Kan cuma sekolahnya, Prof."
Lalu saya menambahkan, "Kan tidak semua
siswa SMA MTA adalah warga MTA. Sama seperti tidak semua santri atau siswa
sekolah Muhammadiyah adalah warga Muhammadiyah."
Beliau kemudian bertanya lagi, "Berarti
kamu pernah diajar sama Pak Sukina?"
Saya menjawab, "Kalau diajar di kelas
belum pernah, Prof. Kalau di pengajian Ahad pagi memang seluruh siswa SMA MTA
wajib hadir."
Setelah itu pertanyaannya mulai beralih ke
materi kemuhammadiyahan. Saya ditanya mengenai TBC (Takhayul, Bid'ah, dan C[Kh]urafat).
Alhamdulillah, saya bisa menjawab dengan relatif baik.
Beliau juga bertanya beberapa hal seputar
tarjih. Misalnya, apakah setelah tahiyat awal ketika berdiri mengangkat tangan
atau tidak. Saya juga diminta mempraktikkan tayamum.
Ada pula pertanyaan mengenai moto
Muhammadiyah. Tidak tahu kenapa saya spontan menjawab, "Hidup-hidupilah
Muhammadiyah dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah."
Beliau juga menanyakan gaji saya di lembaga
sebelumnya. Setelah saya sebutkan nominalnya, beliau berkata, "Di sini
dosen baru juga sekitar segitu."
Saya hanya tersenyum lalu menjawab, "Kan
niat utama saya tadi, Prof, hidup-hidupilah Muhammadiyah." Hehe...
Masih ada beberapa pertanyaan lain, seperti
sudah hafal berapa juz Al-Qur'an, kemudian saya diminta menghafalkan hadis
tentang dua perkara yang ditinggalkan Rasulullah. Terakhir, beliau bertanya,
apabila diterima sebagai dosen tetap, apakah saya bersedia tidak mendaftar
sebagai PNS.
Saya menjawab mantap, "Siap, Prof!"
Sesi ketiga saya bertemu dengan KH. Mohtar
Anshori, Wakil Ketua PDM Klaten yang juga menjabat sebagai anggota BPH UMKLA. Menurut
saya, suasana wawancara bersama beliau jauh lebih santai dibandingkan dua sesi
sebelumnya.
Beliau menanyakan aktivitas saya di
Muhammadiyah, kemudian beliau bertanya mengenai kabar beberapa tokoh
Muhammadiyah PDM Sukoharjo, mulai dari Pak Jumari, Pak Wiwaha, hingga Pak
Dokter Guntur.
Pertanyaan yang cukup serius mungkin adalah
ketika saya diminta menjelaskan persamaan dan perbedaan Muhammadiyah, MTA, dan
Salafi. Di akhir sesi, saya juga diminta mempraktikkan jika saya diminta
membacakan doa pada acara kematian.
Seingat saya, kurang lebih itu saja wawancara
bersama Pak Mohtar.
Sesi terakhir bersama Bu Dr. Naomi selaku
Dekan FAI dan Bu Arifah sebagai Kaprodi PAI. Suasananya juga cukup santai,
meskipun saya diwawancarai oleh dua orang sekaligus dalam satu ruangan.
Bu Arifah sempat bercerita bahwa beliau
pernah dua kali mengisi agenda NA di ICMA Blimbing, tempat saya berkegiatan di
Persyarikatan.
Beliau bertanya kapan saya lulus S-3, mata
kuliah apa saja yang siap saya ampu, serta pengalaman mengajar saya di berbagai
lembaga. Saya juga menyampaikan bahwa saya menjadi Tutor UT, ternyata sama
seperti beliau yang juga menjadi tutor di UT.
Sementara Bu Naomi lebih banyak menekankan
soal komitmen. Mengingat jarak tempuh rumah saya ke UMKLA lumayan jauh, lama perjalanan sekitar
satu setengah jam, maka beliau beberapa kali menegaskan kesiapan dan komitmen saya
apabila nanti diterima. Apakah saya siap ngantor dan mengajar setiap hari. Saya juga ditanya apakah siap jika sewaktu-waktu harus
mengajar di kelas jauh. Kalau tidak salah, itu pertanyaan-pertanyaan yang saya
ingat pada sesi terakhir.
Delapan orang yang mengikuti seleksi pada
gelombang pertama bersama saya, semuanya adalah orang-orang yang luar biasa.
Semuanya ustadz-ustadz yang hebat. Ada yang hafal Al-Qur'an, ada yang sudah
menjadi dosen tidak tetap di berbagai kampus terkenal. Kayaknya hanya saya saja
yang statusnya masih "pengangguran". Hehe...
Alhamdulillah, saya menikmati seluruh proses
ini. Yang lebih saya syukuri lagi, seperti ketika mengikuti seleksi di UMPO
dulu, kali ini pun saya ditemani istri. Sukarela, tanpa saya minta, apalagi
saya paksa. Saya benar-benar bersyukur memiliki pendamping yang selalu
mendukung setiap langkah yang saya ambil.
Pengalaman Seleksi Dosen UMPO
Setelah ini saya tinggal menunggu kabar
selanjutnya, tentunya setelah seluruh peserta gelombang kedua selesai mengikuti
seleksi. Saya belum tahu apakah masih ada tahapan seleksi berikutnya atau tidak.
Oh ya, memang belum ada informasi resmi.
Namun saya sempat mendengar bahwa dari 17 pelamar yang mengikuti seleksi ini,
nantinya hanya akan diambil sekitar 4 orang.
Apa pun hasilnya nanti, saya yakin setiap proses pasti menyimpan pelajaran. Bagi saya, kesempatan mengikuti seleksi ini saja sudah menjadi pengalaman yang sangat berharga. Semoga cerita bisa saya lanjutkan...
Tidak ada komentar